TEHNIK ASERTIF DALAM TINGKATAN
SOSIAL SEHARI-HARI
Pengertian Asertifitas
Asertifitas
adalah hak setiap orang untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat, apa yang
diyakini serta sikapnya terhadap orang lain dengan tetap menghormati dan
menghargai hak-hak orang tersebut. Corey (1995: 87)
Tujuan
Melalui
pelatihan asertif ini diharapkan seseorang dapat mengungkapkan perasaan,
keyakinan dan pemikiran secara terbuka dan dapat mempertahankan hak-hak pribadi
dengan tetap memperhatikan dan menghargai hak-hak orang lain. Sehingga individu
terhindar dari kecemasan dan permasalahan yang dikarenakan ia tidak berani
mengungkapkan penolakan
Karakteristik yang sangat tampak
dari pelatihan asertif adalah:
Metode Pelatihan Asertif
Penerapannya
dapat dikombinasikan dengan beberapa pelatihan seperti relaksasi, ketika
individu lelah dan jenuh dalam berlatiih, kita dapat melakukan relaksasi supaya
menyegarkan individu itu kembali. Pelatihannya juga bisa menerapkan teknik
modeling, misalnya konselor mencontohkan sikap asertif langsung dihadapan
konseli. Selain itu juga dapat dilaksanakan melalui kursi kosong, misalnya
setelah konseli mengangankan tentang apa yang hendak diutarakan, ia langsung
mengutarakannya di depan kursi yang seolah-olah dikursi itu ada orang yang
dimaksud oleh konseli.
Pelatihan
ini dapat mengubah perilaku individu secara langsung melalui perasaan dan
sikapnya.
Disamping
dapat dilaksanakan secara perorangan juga dapat dilaksanakan dalam kelompok.
Melalui latihan-latihan tersebut individu diharapkan mampu menghilangkan
kecemasan-kecemasan yang ada pada dirinya, mampu berfikir relistis terhadap
konsekuensi atas keputusan yang diambilnya serta yang paling penting adalah
menerapkannya dalam kehidupan ataupun situasi yang nyata.
Kelemahan pelatihan asertif
Meskipun
sederhana namun membutuhkan waktu yang tidak sedikit, ini juga tergantung dari
kemampuan individu itu sendiri
Bagi
konselor yang kurang dapat mengkombinasikannya dengan teknik lainnya, pelatihan
asertif ini kurang dapat berjalan dengan baik atau bahkan akan membuat jenuh
dan bosan konseli/peserta, atau juga membutuhkan waktu yang cukup lama.
Manfaatan Pelatihan Asertif
v Membentuk
mental komunikasi yang baik dan memberi penolakan dengan tetap menghargai dan menghormati
orang lain, selain itu dengan bersikap asertif kita juga dapat
v Meningkatkan
penghargaan terhadap diri sendiri
v Membantu
untuk mendapatkan perhatian dari orang lain
v Meningkatkan
kemampuan dalam mengambil keputusan
v Dapat
berhubungan dengan orang lain dengan konflik, kekhawatiran dan penolakan yang
lebih sedikit
v Lebih
jauh lagi perilaku asertif membuat seseorang merasa bertanggung jawab dan
konsekuen untuk melaksanakan keputusannya sendiri. Dalam hal ini, ia bebas
untuk mengemukakan berbagai keinginan, pendapat, gagasan dan perasaan secara
terbuaka sambil tetap memperhatikan perasaan orang lain. Citra dirinya akan
terlihat sebagai sosok yang berpendirina dan tidak terjebak pada eksploitasi
yang merugikan dirinya sendiri. Dengan demikian, akan timbul rasa hormat dan
penghargaan orang lain yang berpengaruh besar terhadap pemantapan eksistensi
dirinya ditengah-tengah khalayak luas.
Kendala Penelitian Asertif
·
Individu yang
terbiasa menutup dirinya/terbiasa bersikap submisif.
·
Kurang
terampilnya konselor memadukan beberapa teknik untuk menghindari kebosanan dan
kejenuhan.
·
Penerapan
pelatihan asertif dengan berbagai teknik seperti permainan peranan, modelling,
kursi kosong pada umumnya membutuhkan waktu yang banyak, sedangkan waktu yang
dimiliki konselor terbatas.
Media/Instrument
Dalam
melakukan pelatihan asertif ini ada beberapa media atau instrument yang secara
umum dibutuhkan, yaitu tempat yang cukup ini, hal ini disesuaikan dengan
pelaksanaannya dilakukan secara kelompok atau individual. Selain tempat,
umumnya juga membutuhkan model, biasanya model bisa diperankan oleh konselor.
Lepas dari itu dalam memilih media dan instrumen harus memperhatikan mekanisme
teknis dari pelaksanaan pelatihan serta teknik-teknik yang digunakan.
Prosedur Penggunaan
Prosedur
dasar dalam pelatihan asertif menyerupai beberapa pendekatan perilaku dalam
konseling. Prosedur-prosedur ini mengutamakan tujuan-tujuan spesifik dan
kehati-hatian, sebagaimana diuraikan Osipow dalam A Survey of Counseling
Methode (1984)
Menentukan kesulitan konseli dalam
bersikap asertif
Dengan
penggalian data terhadap klien, konselor mengerti dimana ketidakasertifan pada
konselinya. Contoh: konseli tidak bisa menolak ajakan temannya untuk bermain
voli setiap minggu pagi padahal ia lebih menyukai berenang, hal itu karena
konseli sungkan, khawatir temannya marah atau sakit hati sehingga ia selalu
menuruti ajakan temannya.
Mengidentifikasi
perilaku yang diinginkan oleh klien dan harapan-harapannya.
Pada
tahap ini, konselor dapat mengungkapkan perilaku/sikap yang diinginkan konseli
sehubungan dengan permasalahan yang dihadapi dan harapan-harapan yang
diinginkannya. Contoh: Setelah menggali data lebih dalam, konselor mengetahui
bahwa konseli sebenarnya ingin menolak ajakan temannya untuk bermain voli setiap
minggu pagi, karena ia lebih menyukai untuk berenang, dengan harapan temannya
dapat membagi waktu untuk berenang dan main voli bersama. Oleh karena itu, ia
ingin dapat menolak ajakan temannya.
Menentukan
perilaku akhir yang diperlukan dan yang tidak diperlukan.
Dengan
kata lain, konselor dapat menentukan perilaku yang harus dimiliki konseli untuk
menyelesaikan masalahnya dan juga mengenali perilaku-perilaku yang tidak
diperlukan yang menjadi pendukung ketidakasertifannya. Contoh: Dengan
mempelajari secara mendetail kasus yang dialami konselinya, konselor menarik
kesimpulan awal bahwa, konseli tidak perlu menuruti terus ajakan temannya yang
sebenarnya tidak ia sukai. Perilaku yang ia perlukan adalah menolak dengan
jujur, tegas dan sopan ajakan temannya tersebut.
Membantu
klien untuk membedakan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan dalam
rangka menyelesaikan masalahnya.
Setelah
konselor menentukan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan,
kemudian ia menjelaskannya kepada konseli tentang apa yang seharusnya ia
lakukan dan ia hindari dalam rangka menyelesaikan permasalahannya dan
memperkuat penjelasannya tersebut. Contoh: konselor menjelaskan bahwa konseli
harus dapat mengungkapkan penolakannya dan ia tidak perlu menuruti ajakan temannya
untuk bermain voli setiap pagi, konseli harus mngungkapkan kalau sebenarnya ia
tidak suka bermain voli dan ia lebih menyukai renang.
Mengungkapkan
ide-ide yang tidak rasional, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang ada difikiran
konseli.
Konselor
dapat mengungkap ide-ide konseli yang tidak rasional yang menjadi penyebab
masalahnya, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang mendukung timbulnya masalah
tersebut.
Menentukan
respon-respon asertif/sikap yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahannya
(melalui contoh-contoh). Contoh: Konselor memberikan contoh perilaku asertif
yang bisa diterapkan konseli, misalnya menolak ajakan temannya dengan kalimat
“Maaf, sebenarnya saya tidak menyukai voli karena punggung dan lutut saya
terasa pegal-pegal setelah bermain, dan saya lebih menyukai renang, jadi saya
tidak dapat mengikuti ajakanmu.” (dengan nada dan intonasi yang santai dan
tenang)
Mengadakan
pelatihan perilaku asertif dan mengulang-ulangnya.
Konselor
memandu konseli untuk mempraktikkan perilaku asertif yang diperlukan, menurut
contoh yang diberikan konselor sebelumnya.
Melanjutkan
latihan perilaku asertif
Memberikan
tugas kepada konseli secara bertahap untuk melancarkan perilaku asertif yang
dimaksud.
Untuk
kelancaran dan kesuksesan latihan, konselor memberikan tugas kepada konseli
untuk berlatih sendiri di rumah ataupun di tempat-tempat lainnya.
Memberikan
penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan.
Penguatan
dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa konseli harus dapat bersikap tegas terhadap
permintaan orang lain padanya, sehingga orang lain tidak mengambil mafaat dari
kita secara bebas. Selain itu yang lebih pokok adalah konseli dapat menerapkan
apa yang telah dilatihnya dalam situasi yang nyata.
Karakteristik
Individu yang Bersikap Asertif
Keberhasilan
dari pelatihan ini akan tampak pada individu yang telah bersikap asertif yang
akan tampak dalam perilakunya sehari-hari, sebagaimana menurut Fensterheim
& Buer, 1980: 14, menyatakan bahwa orang yang berperilaku asertif memiliki
tiga ciri, yaitu:
Merasa
bebas untuk mengemukakan emosi yang dirasakan melalui kata dan tindakan.
Dapat
berkomunikasi dengan orang lain, baik dengan orang yang tidak dikenal, sahabat,
dan keluarga. Berkomunikasi relatif terbuka, jujur, dan sebagaimana mestinya.
Mempunyai
pandangan yang aktif tentang hidup, karena orang asertif cenderung mengejar apa
yang diinginkan dan berusaha agar sesuatu itu terjadi serta sadar akan dirinya
bahwa ia tidak dapat selalu menang, maka ia menerima
keterbatasan-keterbatasannya, akan tetapi ia selalu berusaha untuk mencapai
sesuatu dengan usaha yang sebaik-baiknya dan sebaliknya orang yang tidak
asertif selalu menunggu terjadinya sesuatu.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Perilaku Asertif
Perkembangan
perilaku asertif dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dialami individu dan
lingkungan sepanjang hidupnya. Tingkah laku ini berkembang secara bertahap
sebagai hasil interaksi antara anak dengan orang tua serta orang dewasa lain di
sekitarnya. Menurut Rathus (Fensterheim & Buer, 1980: 65) yang tercantum
dalam penelitian Laeila Firmani Asri.
Faktor
yang mempengaruhi perkembangan asertif adalah:
Jenis
kelamin, sejak kanak-kanak, peranan pendidikan laki-laki dan perempuan telah
dibedakan di masyarakat. Sejak kecil telah dibiasakan bahwa laki-laki harus
tegas dan kompetitif. Masyarakat mengajarkan bahwa asertif kurang sesuai untuk
anak perempuan. Oleh karena itu tampak terlihat bahwa perempuan lebih bersikap
pasif terutama terhadap hal-hal yang kurang berkenan dihatinya.
Kepribadian,
proses komunikasi merupakan syarat utama dalam setiap interaksi. Interaksi akan
lebih efektif apabila tiap orang mau terlibat dan berperan aktif. Orang yang
berperan aktif dalam proses komunikasi adalah mereka yang secara spontan
mengutamakan buah pikirannya dan menanggapi pendapat setiap pihak lain. Sifat
spontan ini dapat dijumpai pada orang yang berkepribadian ekstravest. Orang
yang berkepribadian itu memiliki ciri-ciri mudah melakukan hubungan dengan
orang lain, imulsif, cenderung agresif, sukar menahan diri, percaya diri,
perhatian, mudah berubah, bersikap gampangan,, mudah gembira, dan banyak teman.
Sebaliknya, orang yang berkepribadian intravest mempunyai ciri, pendiam, gemar
mawas diri, teman sedikit, cenderung membuat rencana sebelum melakukan sesuatu,
serius, maupun menahan diri terhadap ledakan-ledakan perasaan dan pengaruh
prasangka terhadap orang lain.
Inteligensi,
perilaku asertif juga dipengaruhi oleh kemampuan setiap orang untuk merumuskan
dan mengungkapkan buah pikirannya secara jelas sehingga dapat dimengerti dan
dipahami oleh pihak lain sehingga proses komunikasi berlangsung dengan lancar.
Kebudayaan,
segala hal yang berhubungan dengan sikap hidup, adat istiadat dan kebudayaan
pertama kali dikenal melalui keluarga. Koentjaraningrat (1987: 187) mengatakan
bahwa kebudayaan akan menjadi milik setiap individu dan membentuk kepribadian
tertentu melalui proses internalisasi, sosialisasi, dan pembudayaan. Dengan
ketiga proses itu seseorang menamakan segala perasaan, hasrat dan emosi dalam
kepribadian untuk disesuaikan dengan sistem norma dan peraturan yang meningkat.
Membangun Perilaku Asssertive
Dalam
membangun assertivitas terdapat beberapa pendekatan yang dapat ditempuh. Salah
satunya adalah Formula 3 A, yang terangkai dari tiga kata Appreciation,
Acceptance, Accommodating (yang dikutip
dari The Jakarta Consulting Group):
Appreciation,
berarti menunjukkan penghargaan terhadap kehadiran orang lain, dan tetap
memberikan perhatian sampai pada batas-batas tertentu atas apa yang terjadi
pada diri mereka. Contoh: memeberikan hadiah kepada teman yang menjadi juara
lomba lari maraton, menjenguk teman yang sedang sakit, dan sebagainya.
Acceptance
adalah perasaan mau menerima kehadiran orang lain tanpa membeda-bedakan status
sosial, tingkat pendidikan, suku, agama, keturunan dan latar belakang lainnya.
Contoh: bekerja sama meringankan korban musibah gempa, bergaul dengan
teman-teman yang berbeda suku, dan sebagainya.
Accomodating,
Menunjukkan sikap ramah kepada semua orang, tanpa terkecuali. Contoh: murah
senyum, menyapa orang yang kita temui dan sebagainya.
Formula
3 A merupakan pedoman untuk memperlihatkan asertivitas berdasarkan empati dalam
rangka membina hubungan baik dengan banyak orang, dengan asumsi bahwa orang
lain pun mempunyai hak dan kesempatan yang sama seperti kita. Oleh karena itu,
kita dapat mengemukakan hak pribadi, namun janganlah kita melupakan untuk
memperhatikan hak orang lain pula. Asertivitas harus didukung oleh kemampuan
untuk berargumentasi secara logis dan konstruktif, yaitu bahwa ia mampu untuk
menjalankan pilihannya secara konsekuen dan bertanggung jawab. Bagi kita yang
merasa perlu untuk tampil secara asertif diharapkan dapat mengevaluasi diri
dengan memperhatikan elemen-elemen yang bermanfaat untuk peningkatan
asertivitas dengan berpatokan pada formula 3 A. Sosok pribadi yang mampu
mengembangkan perilaku asertif ini secara memadai, tentu akan terhindar dari berbagai
permasalahan yang acap kali menghadang gerak maju dalam pencapaian performansi
prima.
Tips-Tips agar Kita dapat Bersikap
Asertif
Dengan
memperhatikan beberapa uraian diatas, dapat diketahui antara lain asertif
merupakan sikap yang diperoleh manusia dari bawaan atau keturunan, namun
asertif merupakan sikap yang diperoleh dari belajar dan latihan yang
dibiasakan. Untuk itu selain dengan bantuan konselor, kita juga dapat
melatihnya sendiri. Berikut ini diuraikan beberapa tips agar kita bisa bersikap
asertif yang dikutip dari www. e-psikologi. Com yang ditulis oleh Jacinta Rini:
Tentukan
sikap yang pasti, apakah Anda ingin menyetujui atau tidak. Jika Anda belum
yakin dengan pilihan Anda, maka Anda bisa minta kesempatan berpikir sampai
mendapatkan kepastian. Jika Anda sudah merasa yakin dan pasti akan pilihan Anda
sendiri, maka akan lebih mudah menyatakannya dan Anda juga merasa lebih percaya
diri.
Jika
belum jelas dengan apa yang dimintakan pada Anda, bertanyalah untuk mendapatkan
kejelasan atau klarifikasi.
Berikan
penjelasan atas penolakan Anda secara singkat, jelas, dan logis. Penjelasan
yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak lain.
Gunakan
kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan “tidak” untuk
penolakan, dari pada “sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya kurang
sependapat...saya kurang bisa.....”
Pastikan
pula, bahwa sikap tubuh Anda juga mengekspresikan atau mencerminkan “bahasa”
yang sama dengan pikiran dan verbalisasi Anda...Seringkali orang tanpa sadar
menolak permintaan orang lain namun dengan sikap yang bertolak belakang,
seperti tertawa-tawa dan tersenyum.
Gunakan
kata-kata “Saya tidak akan....” atau “Saya sudah memutuskan untuk.....” dari
pada “Saya sulit....”. Karena kata-kata “saya sudah memutuskan untuk....” lebih
menunjukkan sikap tegas atas sikap yang Anda tunjukkan.
Jika
Anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak Anda padahal Anda
juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang
dapat Anda lakukan: mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan
menghentikan percakapan.
Anda
tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang Anda sampaikan (karena Anda
berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang
lain)...Sebenarnya, akan lebih baik Anda katakan dengan penuh empati seperti :
“ saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu.....tapi secara
terus terang saya sudah memutuskan untuk ...”
Janganlah
mudah merasa bersalah ! Anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang
lain...atau atas kebahagiaan orang lain, bukan.....
Anda
bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak mendapatkan jalan
tengahnya, tanpa harus mengorbankan perasaan, keinginan dan kepentingan
masing-masing.