Sabtu, 07 Juni 2014

TEHNIK ASERTIF DALAM TINGKATAN SOSIAL SEHARI-HARI

TEHNIK ASERTIF DALAM TINGKATAN SOSIAL SEHARI-HARI

Pengertian Asertifitas
Asertifitas adalah hak setiap orang untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat, apa yang diyakini serta sikapnya terhadap orang lain dengan tetap menghormati dan menghargai hak-hak orang tersebut. Corey (1995: 87)

Tujuan
Melalui pelatihan asertif ini diharapkan seseorang dapat mengungkapkan perasaan, keyakinan dan pemikiran secara terbuka dan dapat mempertahankan hak-hak pribadi dengan tetap memperhatikan dan menghargai hak-hak orang lain. Sehingga individu terhindar dari kecemasan dan permasalahan yang dikarenakan ia tidak  berani mengungkapkan penolakan

Karakteristik yang sangat tampak dari pelatihan asertif adalah:
*    Pelatihan ini mendorong seseorang untuk bersikap jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan
*    Pelatihan asertif mengajarkan untuk melakukan suatu penolakan dengan tetap memperhatikan dan menghormati hak-hak orang lain.
*    Pelatihan asertif dapat dilakukan dengan berbagai teknik seperti bermain peran dan kursi kosong.



Metode Pelatihan Asertif
Penerapannya dapat dikombinasikan dengan beberapa pelatihan seperti relaksasi, ketika individu lelah dan jenuh dalam berlatiih, kita dapat melakukan relaksasi supaya menyegarkan individu itu kembali. Pelatihannya juga bisa menerapkan teknik modeling, misalnya konselor mencontohkan sikap asertif langsung dihadapan konseli. Selain itu juga dapat dilaksanakan melalui kursi kosong, misalnya setelah konseli mengangankan tentang apa yang hendak diutarakan, ia langsung mengutarakannya di depan kursi yang seolah-olah dikursi itu ada orang yang dimaksud oleh konseli.
Pelatihan ini dapat mengubah perilaku individu secara langsung melalui perasaan dan sikapnya.
Disamping dapat dilaksanakan secara perorangan juga dapat dilaksanakan dalam kelompok. Melalui latihan-latihan tersebut individu diharapkan mampu menghilangkan kecemasan-kecemasan yang ada pada dirinya, mampu berfikir relistis terhadap konsekuensi atas keputusan yang diambilnya serta yang paling penting adalah menerapkannya dalam kehidupan ataupun situasi yang nyata.
Kelemahan pelatihan asertif
Meskipun sederhana namun membutuhkan waktu yang tidak sedikit, ini juga tergantung dari kemampuan individu itu sendiri
Bagi konselor yang kurang dapat mengkombinasikannya dengan teknik lainnya, pelatihan asertif ini kurang dapat berjalan dengan baik atau bahkan akan membuat jenuh dan bosan konseli/peserta, atau juga membutuhkan waktu yang cukup lama.



Manfaatan Pelatihan Asertif
v Membentuk mental komunikasi yang baik dan memberi penolakan dengan tetap menghargai dan menghormati orang lain, selain itu dengan bersikap asertif kita juga dapat
v Meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri
v Membantu untuk mendapatkan perhatian dari orang lain
v Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan
v Dapat berhubungan dengan orang lain dengan konflik, kekhawatiran dan penolakan yang lebih sedikit
v Lebih jauh lagi perilaku asertif membuat seseorang merasa bertanggung jawab dan konsekuen untuk melaksanakan keputusannya sendiri. Dalam hal ini, ia bebas untuk mengemukakan berbagai keinginan, pendapat, gagasan dan perasaan secara terbuaka sambil tetap memperhatikan perasaan orang lain. Citra dirinya akan terlihat sebagai sosok yang berpendirina dan tidak terjebak pada eksploitasi yang merugikan dirinya sendiri. Dengan demikian, akan timbul rasa hormat dan penghargaan orang lain yang berpengaruh besar terhadap pemantapan eksistensi dirinya ditengah-tengah khalayak luas.






Kendala Penelitian Asertif
·        Individu yang terbiasa menutup dirinya/terbiasa bersikap submisif.
·        Kurang terampilnya konselor memadukan beberapa teknik untuk menghindari kebosanan dan kejenuhan.
·        Penerapan pelatihan asertif dengan berbagai teknik seperti permainan peranan, modelling, kursi kosong pada umumnya membutuhkan waktu yang banyak, sedangkan waktu yang dimiliki konselor terbatas.
Media/Instrument
Dalam melakukan pelatihan asertif ini ada beberapa media atau instrument yang secara umum dibutuhkan, yaitu tempat yang cukup ini, hal ini disesuaikan dengan pelaksanaannya dilakukan secara kelompok atau individual. Selain tempat, umumnya juga membutuhkan model, biasanya model bisa diperankan oleh konselor. Lepas dari itu dalam memilih media dan instrumen harus memperhatikan mekanisme teknis dari pelaksanaan pelatihan serta teknik-teknik yang digunakan.
Prosedur Penggunaan
Prosedur dasar dalam pelatihan asertif menyerupai beberapa pendekatan perilaku dalam konseling. Prosedur-prosedur ini mengutamakan tujuan-tujuan spesifik dan kehati-hatian, sebagaimana diuraikan Osipow dalam A Survey of Counseling Methode (1984)
Menentukan kesulitan konseli dalam bersikap asertif
Dengan penggalian data terhadap klien, konselor mengerti dimana ketidakasertifan pada konselinya. Contoh: konseli tidak bisa menolak ajakan temannya untuk bermain voli setiap minggu pagi padahal ia lebih menyukai berenang, hal itu karena konseli sungkan, khawatir temannya marah atau sakit hati sehingga ia selalu menuruti ajakan temannya.
Mengidentifikasi perilaku yang diinginkan oleh klien dan harapan-harapannya.
Pada tahap ini, konselor dapat mengungkapkan perilaku/sikap yang diinginkan konseli sehubungan dengan permasalahan yang dihadapi dan harapan-harapan yang diinginkannya. Contoh: Setelah menggali data lebih dalam, konselor mengetahui bahwa konseli sebenarnya ingin menolak ajakan temannya untuk bermain voli setiap minggu pagi, karena ia lebih menyukai untuk berenang, dengan harapan temannya dapat membagi waktu untuk berenang dan main voli bersama. Oleh karena itu, ia ingin dapat menolak ajakan temannya.
Menentukan perilaku akhir yang diperlukan dan yang tidak diperlukan.
Dengan kata lain, konselor dapat menentukan perilaku yang harus dimiliki konseli untuk menyelesaikan masalahnya dan juga mengenali perilaku-perilaku yang tidak diperlukan yang menjadi pendukung ketidakasertifannya. Contoh: Dengan mempelajari secara mendetail kasus yang dialami konselinya, konselor menarik kesimpulan awal bahwa, konseli tidak perlu menuruti terus ajakan temannya yang sebenarnya tidak ia sukai. Perilaku yang ia perlukan adalah menolak dengan jujur, tegas dan sopan ajakan temannya tersebut.
Membantu klien untuk membedakan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan dalam rangka menyelesaikan masalahnya.
Setelah konselor menentukan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan, kemudian ia menjelaskannya kepada konseli tentang apa yang seharusnya ia lakukan dan ia hindari dalam rangka menyelesaikan permasalahannya dan memperkuat penjelasannya tersebut. Contoh: konselor menjelaskan bahwa konseli harus dapat mengungkapkan penolakannya dan ia tidak perlu menuruti ajakan temannya untuk bermain voli setiap pagi, konseli harus mngungkapkan kalau sebenarnya ia tidak suka bermain voli dan ia lebih menyukai renang.
Mengungkapkan ide-ide yang tidak rasional, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang ada difikiran konseli.
Konselor dapat mengungkap ide-ide konseli yang tidak rasional yang menjadi penyebab masalahnya, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang mendukung timbulnya masalah tersebut.
Menentukan respon-respon asertif/sikap yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahannya (melalui contoh-contoh). Contoh: Konselor memberikan contoh perilaku asertif yang bisa diterapkan konseli, misalnya menolak ajakan temannya dengan kalimat “Maaf, sebenarnya saya tidak menyukai voli karena punggung dan lutut saya terasa pegal-pegal setelah bermain, dan saya lebih menyukai renang, jadi saya tidak dapat mengikuti ajakanmu.” (dengan nada dan intonasi yang santai dan tenang)
Mengadakan pelatihan perilaku asertif dan mengulang-ulangnya.
Konselor memandu konseli untuk mempraktikkan perilaku asertif yang diperlukan, menurut contoh yang diberikan konselor sebelumnya.
Melanjutkan latihan perilaku asertif
Memberikan tugas kepada konseli secara bertahap untuk melancarkan perilaku asertif yang dimaksud.
Untuk kelancaran dan kesuksesan latihan, konselor memberikan tugas kepada konseli untuk berlatih sendiri di rumah ataupun di tempat-tempat lainnya.
Memberikan penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan.
Penguatan dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa konseli harus dapat bersikap tegas terhadap permintaan orang lain padanya, sehingga orang lain tidak mengambil mafaat dari kita secara bebas. Selain itu yang lebih pokok adalah konseli dapat menerapkan apa yang telah dilatihnya dalam situasi yang nyata.
Karakteristik Individu yang Bersikap Asertif
Keberhasilan dari pelatihan ini akan tampak pada individu yang telah bersikap asertif yang akan tampak dalam perilakunya sehari-hari, sebagaimana menurut Fensterheim & Buer, 1980: 14, menyatakan bahwa orang yang berperilaku asertif memiliki tiga ciri, yaitu:
Merasa bebas untuk mengemukakan emosi yang dirasakan melalui kata dan tindakan.
Dapat berkomunikasi dengan orang lain, baik dengan orang yang tidak dikenal, sahabat, dan keluarga. Berkomunikasi relatif terbuka, jujur, dan sebagaimana mestinya.
Mempunyai pandangan yang aktif tentang hidup, karena orang asertif cenderung mengejar apa yang diinginkan dan berusaha agar sesuatu itu terjadi serta sadar akan dirinya bahwa ia tidak dapat selalu menang, maka ia menerima keterbatasan-keterbatasannya, akan tetapi ia selalu berusaha untuk mencapai sesuatu dengan usaha yang sebaik-baiknya dan sebaliknya orang yang tidak asertif selalu menunggu terjadinya sesuatu.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Asertif
Perkembangan perilaku asertif dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dialami individu dan lingkungan sepanjang hidupnya. Tingkah laku ini berkembang secara bertahap sebagai hasil interaksi antara anak dengan orang tua serta orang dewasa lain di sekitarnya. Menurut Rathus (Fensterheim & Buer, 1980: 65) yang tercantum dalam penelitian Laeila Firmani Asri.


Faktor yang mempengaruhi perkembangan asertif adalah:
Jenis kelamin, sejak kanak-kanak, peranan pendidikan laki-laki dan perempuan telah dibedakan di masyarakat. Sejak kecil telah dibiasakan bahwa laki-laki harus tegas dan kompetitif. Masyarakat mengajarkan bahwa asertif kurang sesuai untuk anak perempuan. Oleh karena itu tampak terlihat bahwa perempuan lebih bersikap pasif terutama terhadap hal-hal yang kurang berkenan dihatinya.
Kepribadian, proses komunikasi merupakan syarat utama dalam setiap interaksi. Interaksi akan lebih efektif apabila tiap orang mau terlibat dan berperan aktif. Orang yang berperan aktif dalam proses komunikasi adalah mereka yang secara spontan mengutamakan buah pikirannya dan menanggapi pendapat setiap pihak lain. Sifat spontan ini dapat dijumpai pada orang yang berkepribadian ekstravest. Orang yang berkepribadian itu memiliki ciri-ciri mudah melakukan hubungan dengan orang lain, imulsif, cenderung agresif, sukar menahan diri, percaya diri, perhatian, mudah berubah, bersikap gampangan,, mudah gembira, dan banyak teman. Sebaliknya, orang yang berkepribadian intravest mempunyai ciri, pendiam, gemar mawas diri, teman sedikit, cenderung membuat rencana sebelum melakukan sesuatu, serius, maupun menahan diri terhadap ledakan-ledakan perasaan dan pengaruh prasangka terhadap orang lain.
Inteligensi, perilaku asertif juga dipengaruhi oleh kemampuan setiap orang untuk merumuskan dan mengungkapkan buah pikirannya secara jelas sehingga dapat dimengerti dan dipahami oleh pihak lain sehingga proses komunikasi berlangsung dengan lancar.


Kebudayaan, segala hal yang berhubungan dengan sikap hidup, adat istiadat dan kebudayaan pertama kali dikenal melalui keluarga. Koentjaraningrat (1987: 187) mengatakan bahwa kebudayaan akan menjadi milik setiap individu dan membentuk kepribadian tertentu melalui proses internalisasi, sosialisasi, dan pembudayaan. Dengan ketiga proses itu seseorang menamakan segala perasaan, hasrat dan emosi dalam kepribadian untuk disesuaikan dengan sistem norma dan peraturan yang meningkat.
Membangun Perilaku Asssertive
Dalam membangun assertivitas terdapat beberapa pendekatan yang dapat ditempuh. Salah satunya adalah Formula 3 A, yang terangkai dari tiga kata Appreciation, Acceptance,  Accommodating (yang dikutip dari The Jakarta Consulting Group):
Appreciation, berarti menunjukkan penghargaan terhadap kehadiran orang lain, dan tetap memberikan perhatian sampai pada batas-batas tertentu atas apa yang terjadi pada diri mereka. Contoh: memeberikan hadiah kepada teman yang menjadi juara lomba lari maraton, menjenguk teman yang sedang sakit, dan sebagainya.
Acceptance adalah perasaan mau menerima kehadiran orang lain tanpa membeda-bedakan status sosial, tingkat pendidikan, suku, agama, keturunan dan latar belakang lainnya. Contoh: bekerja sama meringankan korban musibah gempa, bergaul dengan teman-teman yang berbeda suku, dan sebagainya.
Accomodating, Menunjukkan sikap ramah kepada semua orang, tanpa terkecuali. Contoh: murah senyum, menyapa orang yang kita temui dan sebagainya.

Formula 3 A merupakan pedoman untuk memperlihatkan asertivitas berdasarkan empati dalam rangka membina hubungan baik dengan banyak orang, dengan asumsi bahwa orang lain pun mempunyai hak dan kesempatan yang sama seperti kita. Oleh karena itu, kita dapat mengemukakan hak pribadi, namun janganlah kita melupakan untuk memperhatikan hak orang lain pula. Asertivitas harus didukung oleh kemampuan untuk berargumentasi secara logis dan konstruktif, yaitu bahwa ia mampu untuk menjalankan pilihannya secara konsekuen dan bertanggung jawab. Bagi kita yang merasa perlu untuk tampil secara asertif diharapkan dapat mengevaluasi diri dengan memperhatikan elemen-elemen yang bermanfaat untuk peningkatan asertivitas dengan berpatokan pada formula 3 A. Sosok pribadi yang mampu mengembangkan perilaku asertif ini secara memadai,  tentu akan terhindar dari berbagai permasalahan yang acap kali menghadang gerak maju dalam pencapaian performansi prima.
Tips-Tips agar Kita dapat Bersikap Asertif
Dengan memperhatikan beberapa uraian diatas, dapat diketahui antara lain asertif merupakan sikap yang diperoleh manusia dari bawaan atau keturunan, namun asertif merupakan sikap yang diperoleh dari belajar dan latihan yang dibiasakan. Untuk itu selain dengan bantuan konselor, kita juga dapat melatihnya sendiri. Berikut ini diuraikan beberapa tips agar kita bisa bersikap asertif yang dikutip dari www. e-psikologi. Com yang ditulis oleh Jacinta Rini:
Tentukan sikap yang pasti, apakah Anda ingin menyetujui atau tidak. Jika Anda belum yakin dengan pilihan Anda, maka Anda bisa minta kesempatan berpikir sampai mendapatkan kepastian. Jika Anda sudah merasa yakin dan pasti akan pilihan Anda sendiri, maka akan lebih mudah menyatakannya dan Anda juga merasa lebih percaya diri.
Jika belum jelas dengan apa yang dimintakan pada Anda, bertanyalah untuk mendapatkan kejelasan atau klarifikasi.
Berikan penjelasan atas penolakan Anda secara singkat, jelas, dan logis. Penjelasan yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak lain.
Gunakan kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan “tidak” untuk penolakan, dari pada “sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya kurang sependapat...saya kurang bisa.....”
Pastikan pula, bahwa sikap tubuh Anda juga mengekspresikan atau mencerminkan “bahasa” yang sama dengan pikiran dan verbalisasi Anda...Seringkali orang tanpa sadar menolak permintaan orang lain namun dengan sikap yang bertolak belakang, seperti tertawa-tawa dan tersenyum.
Gunakan kata-kata “Saya tidak akan....” atau “Saya sudah memutuskan untuk.....” dari pada “Saya sulit....”. Karena kata-kata “saya sudah memutuskan untuk....” lebih menunjukkan sikap tegas atas sikap yang Anda tunjukkan.
Jika Anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak Anda padahal Anda juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang dapat Anda lakukan: mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan.
Anda tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang Anda sampaikan (karena Anda berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang lain)...Sebenarnya, akan lebih baik Anda katakan dengan penuh empati seperti : “ saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu.....tapi secara terus terang saya sudah memutuskan untuk ...”
Janganlah mudah merasa bersalah ! Anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang lain...atau atas kebahagiaan orang lain, bukan.....
Anda bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak mendapatkan jalan tengahnya, tanpa harus mengorbankan perasaan, keinginan dan kepentingan masing-masing.



















TEORI PENDEKATAN SOSIAL DALAM KESEHATAN DAN KONSEP DASAR KESEHATAN



KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan laporan makalah kami yang berjudul “Teori pendekatan sosial dalam kesehatan dan konsep dasar kesehatan ”.
Makalah yang telah kami buat ini berisikan informasi-informasi tentang teori dan konsep kesehatan .Makalah ini kami buat dengan harapan dapat menjadi acuan bagi para mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar. Serta kami berharap makalah ini dapat berguna untuk dipelajari.
Kami menyadari dalam menyusun makalah ini, masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Kami mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan dalam laporan ini. Dan kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun demi sempurnanya makalah ini.
Akhir kata kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam membuat makalah ini. Semoga makalah dapat berguna untuk sekarang dan masa depan. Amien……


Palembang, 04 Januari 2012


Penyusun

i
KONSEP DASAR KESEHATAN

               konsep dasar kesehatan merupakan suatu lapangan khusus dimana keterampilan hubungan antar manusia serta keterampilan organisasi di terapkan dalam hubungan yang serasi denga keterampilan anggota profesi kesehatan lain dan tenaga social, demi memelihara kesehatan masyarakat. Oeh karena itu, kesehatan ditujukan kepada individu, keluarga, dan kelompok melalui upaya peningkatan kesehatan, pemeliharaan kesehatan, penyuluhan kesehatan, koordinasi, dan pelayana kesehatan berkelanjutan sebagai suatu pendekatan yang komprehensif.


Ø PERAN MASYARAKAT DALAM KESEHATAN
               Selain itu, masyarakat juga di pandang sebagai target pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk mencapai kesehatan, sebagai suatu upaya peningkatan kesehatan dan menggunakan kerja sama sebagai suatu mekanisme dalam mempermudah pencapai tujuan yang berarti masyarakat dilibatkan secara aktif untuk mencapai tujuan tersebut.
               Dalam pelaksanaannya , kesehatan diupayakan dekat dengan masyarakat, sehingga strategi pelayanan kesehatan yang utama merupakan pendekatan yang juga menjadi acuan pelayanan  kesehatan yang akan diberikan. Artinya, upaya pelayanan atau asuhan yang diberikan tersebut merupakan upaya yang esensial atau sangat dibutuhkan oleh masyarakat, dan secara universal upaya tersebut mudah di jangkau.
1
               Dengan demikian di dalam kesehatan pengguanaan tekhnologi tepat guna sangat di tekankan. Wujud aplikasi kegiatan nyatanya adalah tenaga kesehatan mampu melakukan rangsangan atau motifasi masyarakat di wilayah binaan dengan memilih alat edukatif sederhana yang tersedia diwilayah tersebut.
               Peran serta masyarakat tersebut di artikan sebagai suatu proses  dimana individu, keluarga, dan masyarakat bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri dengan berperan sebagai pelaku kegiatan upaya peningkatan kesehatannya berdasarkan asas kebersamaan dan kemandirian. Bantuan kesehatan diberikan karena ketidak mampuan, ketidak tahuan, ketidak mauan masyrakat dalam  mengenal masalah kesehatan serta dengan menggunakan potensi lingkungan berusaha memandirikan masyarakat, sehingga pengembangan wilayah setempat (locality development) merupakan bentuk pengorganisasian yang paling tepat digunakan. Didalam praktek kesehatan pendekatan ilmiah yang digunakan adalah proses yang terdiri atas empat tahap, yaitu pengkajian (assesment), perencanaan (planning), pelaksanaan (implementation), dan evaluasi (evaluating).
               Namun, pada kenyataanya belum semua tenaga kesehatan mampu memberikan pelayanan sesuai konsep. Hal ini dapat disebabkan oleh pemahaman yang belum sama mengenai konsep dasar kesehatan dan perananya dalam keperawatan komunitas.





2
TUJUAN KESEHATAN KOMUNITAS

               Tujuan kesehatan adalah untuk pencegahan dan peningkatan  masyarakat melalui upaya-upaya sebagai berikut:
1.    Pelayanan kesehatan secara langsung (directcare) terhadap individu, keluarga, dan kelompok dalam konteks komunitas.

2.    Perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat (health general community) dengan mempertimbangkan permasalahan atau isu kesehatan masyarakat yang dapat mempengaruhi keluarga, individu, dan kelompok.

               Selanjutnya, secara spesifik diharapkan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat mempunyai kemampuan untuk:
1.    Mengidentifikasi masalah kesehatan yang di alami.
2.    Menetapkan masalah kesehatan dan memprioritaskan masalah tersebut.
3.    Merumuskan serta memecahkan masalah kesehatan.
4.    Menanggulangi masalah kesehatan yang mereka hadapi.
5.    Mengevaluasi sejauh mana pemecahan masalah yang mereka hadapi, yang akhirnya dapat meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan seara mandiri.



3
SASARAN KESEHATAN

               Sasaran kesehatan adalah seluruh masyarakat, termasuk individu, keluarga, dan kelempok, baik yang sehat maupun yang sakit, khususnya mereka yang beresiko tinggi mengalami masalah kesehatan dalam masyarakat, yaitu sebagai berikut:
1.    Individu
             Individu adalah anggota keluarga sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi, psikologi, social, dan spiritual.
2.    Keluarga
             keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam satu rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi.
Keluarga merupakan focus pelayanan kesehatan yang strategis, sebab :
a)   Keluarga sebagai lembaga yang perlu diperhitungkan.
b)   Keluarga mempunyai peran utama dalam pemeliharaan kesehatan seluruh anggota keluarga.
c)   Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan.
d)   Keluarga sebagai tempat pengambilan keputusan (decision making) dalam perawatan kesehatan.
e)   Keluarga merupakan perantara yang efektif dalam berbagi usaha-usaha kesehatan masyarakat.


4
3.    Kelompok khusus
                       Kelompok khusus adalah sekumpulan individu yang mempunyai kesamaan jenis kelamin, usia, permasalahan (problem). Kegiatan yang terorganisasi sangat rawan terhadap masalah kesehatan. Kelompok khusus yang ada di masyarakat dan di instusi dapat di klasifikasikan berdasarkan permasalahan seta kebutuhan yang mereka hadapi, di antaranya sebagai berikut :
a)   Kelompok dengan kebutuhan kesehatan khusus sebagai akibat perkembangan dan pertumbuhan (growth and development),yaitu :
·        Kelompok ibu hamil dan bersalin (melahirkan).
·        Kelompok ibu nifas.
·        Kelompok bayi.
·        Kelompok balita.
·        Kelompok anak usia sekolah.
·        Kelompok usia lanjut.
b)   Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasn dan bimbingan serta asuhan keperwatan :
·        Penderitaan penyakit menular, antara lain sebagai berikut.
-          Kelompok penderita penyakit kusta.
-          Kelompok penderita penyakit tuberculosis paru.
-          Kelompok penderita penyakit kelamin (gonorrhea, sifilis).




5
-          Kelompok penderita HIV/AIDS.
-          Penderita penyakit tidak menular, misalnya kelompok penderita hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, kanker stroke, dan sebagainya.
-          Kelompok cacat yang memerlukan rehabilitas.
-          Kelompok cacat mental.
-          Kelompok cacat social.
c)   Kelompok yang mempunyai risiko tinggi terserang penyakit, yaitu :
·        Kelompok penyalahgunaan obat dan narkotika
·        Kelompok Wanita Tuna Susila (WTS) dan pekerja seks komersial (PSK).
·        Kelompok pekerja tartentu.











6
TEORI PENDEKATAN SOSIAL DALAM KESEHATAN

1.    Teori Sistem
             Teori system merupakan suatu kerangka kerja yang berhubungan dengan keseluruhan aspek social, manusia, struktur, masalah-masalah organisasi, serta perubahan hubungan internal dan lingkungan disekitarnya. Sistem tesebut terdiri atas tujan, proses, dan isi. Tujuan adalah suatu yang harus dilaksanakan, sehingga tujuan dapat memberikan arah pada system. Proses berfungsi dalam memenuhi tujuan yang hendak dicapai dan isi terdiri atas bagian yang membentuk suatu system.

2.    Teori Kebutuhan Manusia
             Teori ini memandang bahwa manusia sebagai bagian integral yang berintegrasi satu sama lain dalam motifasinya untuk memenuhi kebutuhan dasar (fisiologis, keamanan, kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi diri). Setiap kebutuhan manusia merupakan suatu “tegangan internal” sebagai akibat dari perubahan setiap komponen system tegangan tersebut bertujuan sampai terpenuhinya tingkat kepuasan klien.
             Inti kebutuhan dasar manusia adalah terpenuhinya tingkat kepuasan agar manusia dapat mempertahankan hidupnya. Kerangka kerja pada teori ini menggambarkan suatu bagian dimana penerapan proses kesehatan selalu difokuskan pada kebutuhan individu yang unik dan sebagai suatu bagian integral dari keluarga dan masyarakat.
            



7
             Keseimbangan antar kebutuhan tersebut menjadi tanggung jawab dari setiap orang. Misalnya, tanggung jawab orang tua terhadap anak adalah memenuhi kebutuhan dasar anak tersebut. Demikian juga dengan tanggung jawab perawat, yaitu memberikan dukungan, memfasilitasi, dan mengkomunikasikan kepada klien, baik yang sehat maupun yang sakit, untuk membantu memenuhi kebutuhan dasarnya.

3.    Teori Persepsi
             Terjadinya perubahan dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia sangat dipengaruhi oleh persepsi individu. Setiap manusia selalu berubah kebutuhan dan kepuasannya berdasarkan perubahan prilaku yang sangat unik. Akibatnya, setiap perubahan yang terjadi persepsinya akan selalu berbeda antara individu yang satu dengan yang lain perbedaan tersebut membawa konsekuensi terhadap masalah kesehatan.
             Misalnya pada dua klien (A dan B) dengan diagnosis meis yang sama (diabetes militus) akan timbul masalah kesehatan yang berbeda. Hal ini karena persepsi klien A dan B yang berbeda terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya. Untuk memahami arti persepsi seseorang harus mengadakan pendekatan melalui karakteristik individu yang mempersepsikan situasi yang mempunyai makna bagi kita. Makna merupakan kerangka penjabaran dari persepsi, ingatan, dan tindakan.

4.    Teori Informasi dan Komunikasi
             Tujuan asuhan kesehatan adalah untuk mengidentifikasi masalah klien . Proses keperawtan sebagai salah satu pendekatan utama dalam pemberian asuhan keperawatan pada dasarnya merupakan suatu proses pegambilan keputusan dan penyelesaian masalah.

8
             Setela itu perawat dituntut mempunyai pengetahuan tentang konsep dan teori sebagai dasar dalam mengartikan data yang diperoleh serta dapat menjalin kominakasi yang efektif. Pengetahuan tersebut meliputi kemampuan perawat tentang cara memperoleh data atau fakta, menyeleksi, memproses informasi dan memutuskan suatu asuhan keperawatan berdasarkan data yang diperoleh.

5.    Teori pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah
             Setiap tindakan yang dilakukan secara rasional oleh seseorang selalu melibatkan keputusan atau pilihan. Setiap pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah menuntut seseorang untuk dapat menerima hal yang baru, perbedaan, dan aspek-aspek yang lebih kompleks dari lingkungan yang sudah ada. Oleh sebab itu setiap kesenjangan adalah suatu masalah dan masalah tersebut memerlukan jawaban serta solusi yang tepat.
             Tujuan penerapan proses kesehatan dalam memberi asuhan keperawatan kepada klien adalah untuk menyelesaikan masalah. Melalui pendekatan proses keperawatan masalah-masalah dapat diidentifikasi secara tepat dan pengambilan keputusan dapat dilaksanakan dengan akurat.





9