Rabu, 15 Maret 2017

APLIKASI PENDEKATAN SOSIAL DENGAN PENYULUHAN KESEHATAN


TEHNIK ASERTIF DALAM TINGKATAN SOSIAL SEHARI-HARI

Pengertian Asertifitas
Asertifitas adalah hak setiap orang untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat, apa yang diyakini serta sikapnya terhadap orang lain dengan tetap menghormati dan menghargai hak-hak orang tersebut. Corey (1995: 87)

Tujuan
Melalui pelatihan asertif ini diharapkan seseorang dapat mengungkapkan perasaan, keyakinan dan pemikiran secara terbuka dan dapat mempertahankan hak-hak pribadi dengan tetap memperhatikan dan menghargai hak-hak orang lain. Sehingga individu terhindar dari kecemasan dan permasalahan yang dikarenakan ia tidak  berani mengungkapkan penolakan

Karakteristik yang sangat tampak dari pelatihan asertif adalah:
*    Pelatihan ini mendorong seseorang untuk bersikap jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan
*    Pelatihan asertif mengajarkan untuk melakukan suatu penolakan dengan tetap memperhatikan dan menghormati hak-hak orang lain.
*    Pelatihan asertif dapat dilakukan dengan berbagai teknik seperti bermain peran dan kursi kosong.



Metode Pelatihan Asertif
Penerapannya dapat dikombinasikan dengan beberapa pelatihan seperti relaksasi, ketika individu lelah dan jenuh dalam berlatiih, kita dapat melakukan relaksasi supaya menyegarkan individu itu kembali. Pelatihannya juga bisa menerapkan teknik modeling, misalnya konselor mencontohkan sikap asertif langsung dihadapan konseli. Selain itu juga dapat dilaksanakan melalui kursi kosong, misalnya setelah konseli mengangankan tentang apa yang hendak diutarakan, ia langsung mengutarakannya di depan kursi yang seolah-olah dikursi itu ada orang yang dimaksud oleh konseli.
Pelatihan ini dapat mengubah perilaku individu secara langsung melalui perasaan dan sikapnya.
Disamping dapat dilaksanakan secara perorangan juga dapat dilaksanakan dalam kelompok. Melalui latihan-latihan tersebut individu diharapkan mampu menghilangkan kecemasan-kecemasan yang ada pada dirinya, mampu berfikir relistis terhadap konsekuensi atas keputusan yang diambilnya serta yang paling penting adalah menerapkannya dalam kehidupan ataupun situasi yang nyata.
Kelemahan pelatihan asertif
Meskipun sederhana namun membutuhkan waktu yang tidak sedikit, ini juga tergantung dari kemampuan individu itu sendiri
Bagi konselor yang kurang dapat mengkombinasikannya dengan teknik lainnya, pelatihan asertif ini kurang dapat berjalan dengan baik atau bahkan akan membuat jenuh dan bosan konseli/peserta, atau juga membutuhkan waktu yang cukup lama.



Manfaatan Pelatihan Asertif
v Membentuk mental komunikasi yang baik dan memberi penolakan dengan tetap menghargai dan menghormati orang lain, selain itu dengan bersikap asertif kita juga dapat
v Meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri
v Membantu untuk mendapatkan perhatian dari orang lain
v Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan
v Dapat berhubungan dengan orang lain dengan konflik, kekhawatiran dan penolakan yang lebih sedikit
v Lebih jauh lagi perilaku asertif membuat seseorang merasa bertanggung jawab dan konsekuen untuk melaksanakan keputusannya sendiri. Dalam hal ini, ia bebas untuk mengemukakan berbagai keinginan, pendapat, gagasan dan perasaan secara terbuaka sambil tetap memperhatikan perasaan orang lain. Citra dirinya akan terlihat sebagai sosok yang berpendirina dan tidak terjebak pada eksploitasi yang merugikan dirinya sendiri. Dengan demikian, akan timbul rasa hormat dan penghargaan orang lain yang berpengaruh besar terhadap pemantapan eksistensi dirinya ditengah-tengah khalayak luas.






Kendala Penelitian Asertif
·        Individu yang terbiasa menutup dirinya/terbiasa bersikap submisif.
·        Kurang terampilnya konselor memadukan beberapa teknik untuk menghindari kebosanan dan kejenuhan.
·        Penerapan pelatihan asertif dengan berbagai teknik seperti permainan peranan, modelling, kursi kosong pada umumnya membutuhkan waktu yang banyak, sedangkan waktu yang dimiliki konselor terbatas.
Media/Instrument
Dalam melakukan pelatihan asertif ini ada beberapa media atau instrument yang secara umum dibutuhkan, yaitu tempat yang cukup ini, hal ini disesuaikan dengan pelaksanaannya dilakukan secara kelompok atau individual. Selain tempat, umumnya juga membutuhkan model, biasanya model bisa diperankan oleh konselor. Lepas dari itu dalam memilih media dan instrumen harus memperhatikan mekanisme teknis dari pelaksanaan pelatihan serta teknik-teknik yang digunakan.
Prosedur Penggunaan
Prosedur dasar dalam pelatihan asertif menyerupai beberapa pendekatan perilaku dalam konseling. Prosedur-prosedur ini mengutamakan tujuan-tujuan spesifik dan kehati-hatian, sebagaimana diuraikan Osipow dalam A Survey of Counseling Methode (1984)
Menentukan kesulitan konseli dalam bersikap asertif
Dengan penggalian data terhadap klien, konselor mengerti dimana ketidakasertifan pada konselinya. Contoh: konseli tidak bisa menolak ajakan temannya untuk bermain voli setiap minggu pagi padahal ia lebih menyukai berenang, hal itu karena konseli sungkan, khawatir temannya marah atau sakit hati sehingga ia selalu menuruti ajakan temannya.
Mengidentifikasi perilaku yang diinginkan oleh klien dan harapan-harapannya.
Pada tahap ini, konselor dapat mengungkapkan perilaku/sikap yang diinginkan konseli sehubungan dengan permasalahan yang dihadapi dan harapan-harapan yang diinginkannya. Contoh: Setelah menggali data lebih dalam, konselor mengetahui bahwa konseli sebenarnya ingin menolak ajakan temannya untuk bermain voli setiap minggu pagi, karena ia lebih menyukai untuk berenang, dengan harapan temannya dapat membagi waktu untuk berenang dan main voli bersama. Oleh karena itu, ia ingin dapat menolak ajakan temannya.
Menentukan perilaku akhir yang diperlukan dan yang tidak diperlukan.
Dengan kata lain, konselor dapat menentukan perilaku yang harus dimiliki konseli untuk menyelesaikan masalahnya dan juga mengenali perilaku-perilaku yang tidak diperlukan yang menjadi pendukung ketidakasertifannya. Contoh: Dengan mempelajari secara mendetail kasus yang dialami konselinya, konselor menarik kesimpulan awal bahwa, konseli tidak perlu menuruti terus ajakan temannya yang sebenarnya tidak ia sukai. Perilaku yang ia perlukan adalah menolak dengan jujur, tegas dan sopan ajakan temannya tersebut.
Membantu klien untuk membedakan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan dalam rangka menyelesaikan masalahnya.
Setelah konselor menentukan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan, kemudian ia menjelaskannya kepada konseli tentang apa yang seharusnya ia lakukan dan ia hindari dalam rangka menyelesaikan permasalahannya dan memperkuat penjelasannya tersebut. Contoh: konselor menjelaskan bahwa konseli harus dapat mengungkapkan penolakannya dan ia tidak perlu menuruti ajakan temannya untuk bermain voli setiap pagi, konseli harus mngungkapkan kalau sebenarnya ia tidak suka bermain voli dan ia lebih menyukai renang.
Mengungkapkan ide-ide yang tidak rasional, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang ada difikiran konseli.
Konselor dapat mengungkap ide-ide konseli yang tidak rasional yang menjadi penyebab masalahnya, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang mendukung timbulnya masalah tersebut.
Menentukan respon-respon asertif/sikap yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahannya (melalui contoh-contoh). Contoh: Konselor memberikan contoh perilaku asertif yang bisa diterapkan konseli, misalnya menolak ajakan temannya dengan kalimat “Maaf, sebenarnya saya tidak menyukai voli karena punggung dan lutut saya terasa pegal-pegal setelah bermain, dan saya lebih menyukai renang, jadi saya tidak dapat mengikuti ajakanmu.” (dengan nada dan intonasi yang santai dan tenang)
Mengadakan pelatihan perilaku asertif dan mengulang-ulangnya.
Konselor memandu konseli untuk mempraktikkan perilaku asertif yang diperlukan, menurut contoh yang diberikan konselor sebelumnya.
Melanjutkan latihan perilaku asertif
Memberikan tugas kepada konseli secara bertahap untuk melancarkan perilaku asertif yang dimaksud.
Untuk kelancaran dan kesuksesan latihan, konselor memberikan tugas kepada konseli untuk berlatih sendiri di rumah ataupun di tempat-tempat lainnya.
Memberikan penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan.
Penguatan dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa konseli harus dapat bersikap tegas terhadap permintaan orang lain padanya, sehingga orang lain tidak mengambil mafaat dari kita secara bebas. Selain itu yang lebih pokok adalah konseli dapat menerapkan apa yang telah dilatihnya dalam situasi yang nyata.
Karakteristik Individu yang Bersikap Asertif
Keberhasilan dari pelatihan ini akan tampak pada individu yang telah bersikap asertif yang akan tampak dalam perilakunya sehari-hari, sebagaimana menurut Fensterheim & Buer, 1980: 14, menyatakan bahwa orang yang berperilaku asertif memiliki tiga ciri, yaitu:
Merasa bebas untuk mengemukakan emosi yang dirasakan melalui kata dan tindakan.
Dapat berkomunikasi dengan orang lain, baik dengan orang yang tidak dikenal, sahabat, dan keluarga. Berkomunikasi relatif terbuka, jujur, dan sebagaimana mestinya.
Mempunyai pandangan yang aktif tentang hidup, karena orang asertif cenderung mengejar apa yang diinginkan dan berusaha agar sesuatu itu terjadi serta sadar akan dirinya bahwa ia tidak dapat selalu menang, maka ia menerima keterbatasan-keterbatasannya, akan tetapi ia selalu berusaha untuk mencapai sesuatu dengan usaha yang sebaik-baiknya dan sebaliknya orang yang tidak asertif selalu menunggu terjadinya sesuatu.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Asertif
Perkembangan perilaku asertif dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dialami individu dan lingkungan sepanjang hidupnya. Tingkah laku ini berkembang secara bertahap sebagai hasil interaksi antara anak dengan orang tua serta orang dewasa lain di sekitarnya. Menurut Rathus (Fensterheim & Buer, 1980: 65) yang tercantum dalam penelitian Laeila Firmani Asri.


Faktor yang mempengaruhi perkembangan asertif adalah:
Jenis kelamin, sejak kanak-kanak, peranan pendidikan laki-laki dan perempuan telah dibedakan di masyarakat. Sejak kecil telah dibiasakan bahwa laki-laki harus tegas dan kompetitif. Masyarakat mengajarkan bahwa asertif kurang sesuai untuk anak perempuan. Oleh karena itu tampak terlihat bahwa perempuan lebih bersikap pasif terutama terhadap hal-hal yang kurang berkenan dihatinya.
Kepribadian, proses komunikasi merupakan syarat utama dalam setiap interaksi. Interaksi akan lebih efektif apabila tiap orang mau terlibat dan berperan aktif. Orang yang berperan aktif dalam proses komunikasi adalah mereka yang secara spontan mengutamakan buah pikirannya dan menanggapi pendapat setiap pihak lain. Sifat spontan ini dapat dijumpai pada orang yang berkepribadian ekstravest. Orang yang berkepribadian itu memiliki ciri-ciri mudah melakukan hubungan dengan orang lain, imulsif, cenderung agresif, sukar menahan diri, percaya diri, perhatian, mudah berubah, bersikap gampangan,, mudah gembira, dan banyak teman. Sebaliknya, orang yang berkepribadian intravest mempunyai ciri, pendiam, gemar mawas diri, teman sedikit, cenderung membuat rencana sebelum melakukan sesuatu, serius, maupun menahan diri terhadap ledakan-ledakan perasaan dan pengaruh prasangka terhadap orang lain.
Inteligensi, perilaku asertif juga dipengaruhi oleh kemampuan setiap orang untuk merumuskan dan mengungkapkan buah pikirannya secara jelas sehingga dapat dimengerti dan dipahami oleh pihak lain sehingga proses komunikasi berlangsung dengan lancar.


Kebudayaan, segala hal yang berhubungan dengan sikap hidup, adat istiadat dan kebudayaan pertama kali dikenal melalui keluarga. Koentjaraningrat (1987: 187) mengatakan bahwa kebudayaan akan menjadi milik setiap individu dan membentuk kepribadian tertentu melalui proses internalisasi, sosialisasi, dan pembudayaan. Dengan ketiga proses itu seseorang menamakan segala perasaan, hasrat dan emosi dalam kepribadian untuk disesuaikan dengan sistem norma dan peraturan yang meningkat.
Membangun Perilaku Asssertive
Dalam membangun assertivitas terdapat beberapa pendekatan yang dapat ditempuh. Salah satunya adalah Formula 3 A, yang terangkai dari tiga kata Appreciation, Acceptance,  Accommodating (yang dikutip dari The Jakarta Consulting Group):
Appreciation, berarti menunjukkan penghargaan terhadap kehadiran orang lain, dan tetap memberikan perhatian sampai pada batas-batas tertentu atas apa yang terjadi pada diri mereka. Contoh: memeberikan hadiah kepada teman yang menjadi juara lomba lari maraton, menjenguk teman yang sedang sakit, dan sebagainya.
Acceptance adalah perasaan mau menerima kehadiran orang lain tanpa membeda-bedakan status sosial, tingkat pendidikan, suku, agama, keturunan dan latar belakang lainnya. Contoh: bekerja sama meringankan korban musibah gempa, bergaul dengan teman-teman yang berbeda suku, dan sebagainya.
Accomodating, Menunjukkan sikap ramah kepada semua orang, tanpa terkecuali. Contoh: murah senyum, menyapa orang yang kita temui dan sebagainya.

Formula 3 A merupakan pedoman untuk memperlihatkan asertivitas berdasarkan empati dalam rangka membina hubungan baik dengan banyak orang, dengan asumsi bahwa orang lain pun mempunyai hak dan kesempatan yang sama seperti kita. Oleh karena itu, kita dapat mengemukakan hak pribadi, namun janganlah kita melupakan untuk memperhatikan hak orang lain pula. Asertivitas harus didukung oleh kemampuan untuk berargumentasi secara logis dan konstruktif, yaitu bahwa ia mampu untuk menjalankan pilihannya secara konsekuen dan bertanggung jawab. Bagi kita yang merasa perlu untuk tampil secara asertif diharapkan dapat mengevaluasi diri dengan memperhatikan elemen-elemen yang bermanfaat untuk peningkatan asertivitas dengan berpatokan pada formula 3 A. Sosok pribadi yang mampu mengembangkan perilaku asertif ini secara memadai,  tentu akan terhindar dari berbagai permasalahan yang acap kali menghadang gerak maju dalam pencapaian performansi prima.
Tips-Tips agar Kita dapat Bersikap Asertif
Dengan memperhatikan beberapa uraian diatas, dapat diketahui antara lain asertif merupakan sikap yang diperoleh manusia dari bawaan atau keturunan, namun asertif merupakan sikap yang diperoleh dari belajar dan latihan yang dibiasakan. Untuk itu selain dengan bantuan konselor, kita juga dapat melatihnya sendiri. Berikut ini diuraikan beberapa tips agar kita bisa bersikap asertif yang dikutip dari www. e-psikologi. Com yang ditulis oleh Jacinta Rini:
Tentukan sikap yang pasti, apakah Anda ingin menyetujui atau tidak. Jika Anda belum yakin dengan pilihan Anda, maka Anda bisa minta kesempatan berpikir sampai mendapatkan kepastian. Jika Anda sudah merasa yakin dan pasti akan pilihan Anda sendiri, maka akan lebih mudah menyatakannya dan Anda juga merasa lebih percaya diri.
Jika belum jelas dengan apa yang dimintakan pada Anda, bertanyalah untuk mendapatkan kejelasan atau klarifikasi.
Berikan penjelasan atas penolakan Anda secara singkat, jelas, dan logis. Penjelasan yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak lain.
Gunakan kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan “tidak” untuk penolakan, dari pada “sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya kurang sependapat...saya kurang bisa.....”
Pastikan pula, bahwa sikap tubuh Anda juga mengekspresikan atau mencerminkan “bahasa” yang sama dengan pikiran dan verbalisasi Anda...Seringkali orang tanpa sadar menolak permintaan orang lain namun dengan sikap yang bertolak belakang, seperti tertawa-tawa dan tersenyum.
Gunakan kata-kata “Saya tidak akan....” atau “Saya sudah memutuskan untuk.....” dari pada “Saya sulit....”. Karena kata-kata “saya sudah memutuskan untuk....” lebih menunjukkan sikap tegas atas sikap yang Anda tunjukkan.
Jika Anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak Anda padahal Anda juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang dapat Anda lakukan: mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan.
Anda tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang Anda sampaikan (karena Anda berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang lain)...Sebenarnya, akan lebih baik Anda katakan dengan penuh empati seperti : “ saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu.....tapi secara terus terang saya sudah memutuskan untuk ...”
Janganlah mudah merasa bersalah ! Anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang lain...atau atas kebahagiaan orang lain, bukan.....
Anda bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak mendapatkan jalan tengahnya, tanpa harus mengorbankan perasaan, keinginan dan kepentingan masing-masing.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar