Senin, 22 September 2014

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN KANKER GINJAL



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Banyak darah yang senantiasa lewat melalui ginjal yang terdiri atas filter (saringan ) kecil tak terhitung banyaknya ( neuron ). Filtrat ( air saringan, air tapis) melewati tabung – tabung mini yang terletak di lapisan sumsum ginjal, ditempat zat – zat bermanfaat dan berharga seperti garam, mineral, dan gula diseleksi dan diserap lagi ke dalam dara. Sisanya, ampas yang tak berguna dari pembakaran di jaringan menuju lewat piala ginjal sebagai urine ke saluran kemih dan kandung kemih.
Seperti kebanyakan kanker, pada penyakit kanker ginjal keluhan dan simptom tidak ada untuk jangka waktu lama, tumornya muncul secara laten (tersembunyi ). Tanda pertamanya adalah darah pada urine, nyeri punggung atau benjolan yang teraba. Tiga gejala ini terkadang disebut trias grawit, jelas merupakan tanda lambat dan menunjukkan pada suatu stadium lanjut. Hamturi, darah di urine disebabkan oleh pertumbuhan lanjut ke dalam piala ginjal, diikuti oleh perdarahan dari tumor. Terkadang darah di dalam piala ginjal membeku, kemudian darah beku ini disertai serangan kolik ( remas ) yang ditandai oleh kejang nyeri hebat, didesak ke bawah melalui saluran kemih. Saluran kemih bereaksi atas darah beku seakan – akan berupa batu ginjal. Jadi sesudah suatu kolik, tidak keluar batu bersama air kemih, maka mungkin kanker sel ginjal penyebab.
Kanker ginjal menyebabkan 2% dari semua penyakit kanker yang menyerang  orang dewasa di Amerika serikat. Penyakit ini menyerang laki-laki hampir dua kali lebih banyak dari pada wanita dan umumnya mengenai laki-laki pada usia diatas 55 tahun. Insidensi carsinoma sel ginjal ( kanker ginjal ) mengenai 3 per 1000 orang dan ditemukan sekitar 31.000 kasus baru ditemukan disetiap tahun , serta 12.000 orang meninggal karena kanker ginjal di AS.
1.2  TUJUAN

1.      Mahasiswa Mengetahui Definisi Kanker Ginjal.
2.      Mahasiswa Mengetahui Anatomi Fisiologi Kanker Ginjal.
3.      Mahasiswa Mengetahui Etiologi Kanker Ginjal.
4.      Mahasiswa Mengetahui Patofisiologi Kanker Ginjal.
5.      Mahasiswa Mengetahui Pathway/Patoflow Kanker Ginjal.
6.      Mahasiswa Mengetahui Manifestasi Klinis Kanker Ginjal.
7.      Mahasiswa Mengetahui  Pemeriksaan Diagnostik Kanker Ginjal.
8.      Mahasiswa Mengetahui Klasifikasi Kanker Ginjal.
9.      Mahasiswa Mengetahui Penatalaksanaan Kanker Ginjal.
10.  Mahasiswa Mengetahui Asuhan Keperawatan Teori Kanker Ginjal.

1.3  MANFAAT
·         Menambah pengetahuan mahasiswa tentang Definisi Kanker Ginjal.
·         Menambah pengetahuan mahasiswa tentang Anatomi Fisiologi Kanker Ginjal.
·         Menambah pengetahuan mahasiswa tentang Etiologi Glomelurus Akut.
·         Menambah pengetahuan mahasiswa tentang Patofisiologi Kanker Ginjal.
·         Menambah pengetahuan mahasiswa tentang Pathway Kanker Ginjal.
·         Menambah pengetahuan mahasiswa tentang Manifestasi Klinis Kanker Ginjal..
·         Menambah pengetahuan mahasiswa tentang Pemeriksaan Diagnostik Kanker Ginjal.
·         Menambah pengetahuan mahasiswa tentang klasifikasi Kanker Ginjal.
·         Menambah pengetahuan mahasiswa tentang Penatalaksanaan Kanker Ginjal.
·         Menambah pengetahuan mahasiswa tentang Asuhan Keperawatan Teori Kanker Ginjal.

























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    PENGERTIAN

Kanker Ginjal adalah kondisi medis yang ditandai dengan kelainan pertumbuhan dari sel-sel kanker pada ginjal. Biasanya, hanya satu ginjal yang terkena kanker.
Kanker ginjal merupakan sebagian besar tumor ginjal yang solid (padat) dan jenis kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel ginjal (adeno karsinoma renalis / hipernefroma). Kanker Ginjal atau hipernefroma merupakan jenis kanker yang terdapat pada bagian ginjal atau disebut tubulus renal proksimal.
Carsinoma sel ginjal ( renal cell carcinoma ) adalah tumor malignansi renal tersering, dua kali lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan pada wanita.
Karsinoma sel ginjal merupakan tumor yang berasal dari epitel tubulus ginjal terutama terletak di korteks.Carsinomaselginjal( renal cell carcinoma ) adalah tumor malignansi renal tersering, dua kali lebihseringditemukanpadalaki-lakidibandingkanpadawanita.

B.     ETIOLOGI
Dalam keadaan normal, sel-sel di dalam saluran kemih tumbuh dan membelah secara wajar.Tetapi kadang sel-sel mulai membelah diluar kendali dan menghasilkan sel-sel baru meskipun tubuh tidak memerlukannya. Hal ini akan menyebabkan terbentuknya suatu massa yang terdiri jaringan berlebihan, yang dikenal sebagai tumor. Tidak semua tumor merupakan kanker (keganasan). Tumor yang ganas disebut tumor  maligna. Sel-se ldari tumor ini menyusup dan merusak jaringan disekitarnya. Sel-sel ini juga keluar dari tumor asalnya dan memasuki aliran darah atau system getah bening, paru-paru, hati, tulang , Pembuluh limfe, Vena renalis. dan akan terbawa ke bagian tubuh lainnya ( proses ini dikenal sebagai metastase tumor ).
Penyebab mengganasnya sel-sel ginjal tidak diketahui. Namun  penelitian telah menemukan factor-faktor tertentu yang tampaknya meningkatkan risiko terjadinya kanker ginjal. Risiko terjadinya carcinoma sel ginjal meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Kanker ini paling sering terjadi pad ausia 50-70 tahun. Pria memiliki risiko 2 kali lebih besar dibandingkan wanita.
Faktor – faktor resikonya, yaitu :
1.      Merokok. Merokok adalah faktor resiko utama. Para perokok dua kali lebih mungkin menderita kanker ginjal daripada bukan perokok. Orang yang menyukai rokok cerutu bahkan bisa menderita kanker ginjal paling parah.
2.      Kegemukan / obesitas. Orang yang mengalami kegemukan mempunyai resiko yang lebih tinggi dari mereka yang tidak kegemukan.
3.      Dialysis jangka panjang. Dialysis adalah perawatan untuk orang – orang yang ginjalnya tidak bekerja dengan baik. Dialysis akan mengeluarkan pembuangan – pembuangan dari darah.
4.      Hipertensi. Merupakan faktor resiko yang termasuk pokok.
5.      Von Hippel Lindau ( VHL ) syndrome. HVL adalah penyakit yang jarang beredar pada beberapa keluarga dan disebabkan oleh perubahan dalam gen HVL. Suatu gen HVL yang tidak normal dapat meningkatkan resiko kanker ginjal, juga menyebabkan kista atau tumor dimata, otak dan bagian – bagian tubuh yang lainnya. Penderita sindrom ini bisa melakukan tes pemeriksaan terhadap kemungkinan gen VHL yang tidak normal.
6.      Jenis kelamin. Laki – laki dimungkinkan lebih banyak menderita kanker ginjal daripada perempuan. Di AS, sekitar 20.000 laki – laki dan 12.000 perempuan menderita kanker ginjal dalam setiap tahun.
7.      Makanan tinggi lemak
8.      Faktor lingkungan seperti terpapar cadmium, pelarut klorin, asbestos.

C.    ANATOMI

Ginjal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang vital fungsinya bagi keseluruhan sistem tubuh manusia. Ginjal adalah organ utama system ekskresi manusia, yang mengatur pembuangan zat-zat sisa yang sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Selain itu, ginjal juga berperan dalam menjaga homeostasis cairan dalam tubuh. Seperti organ tubuh lainnya, ginjal juga bisa mengalami kanker.
Jenis kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel ginjal (adenokarsinoma renalis, hipernefroma, renal cell carcinoma), yang berasal darisel-sel yang melapisi tubulus renalis ginjal. Bahayanya, kanker ginjal ini biasanyaditemukan pada saat kanker ini telah mengalami metastasis dan sudah menyebar ke organ tubuh lainnya, karena pada stadium dini kanker ini jarang sekalimenunjukkan gejalanya. Gejalanya baru mulai terasa pada stadium lanjut, yaituterjadi hematuria (terdapat darah pada air seni). Penyakit kanker ginjal merupakansalah satu penyakit yang ditakuti oleh beberapa orang karena tidak menunjukkangejalanya. Sehingga ketika terdeteksi ternyata sudah menyebar ke organ yang laindan sulit untuk disembuhkan. Angka kejadian kanker ginjal cenderung meningkatbelakangan ini.


          
Gambar 1.1 Kanker (tumor) pada ginjal                     Gambar 1.2 ginjal normal
D.    PATOFISIOLOGI

Tumor ini berasal dari tubulus proksimalis ginjal yang mula-mula berada di dalam korteks, dan kemudian menembus kapsul ginjal. Tidak jarang ditemukan kista-kista yang berasal dari tumor yang mengalami nekrosis dan diresorbsi.Cara penyebaran bisa secara langsung menembus simpai ginjal ke jaringan sekitarnya dan melalui pembuluh limfe atau v. Renalis. Metastasis tersering ialah ke kelenjar getah bening ipsilateral, paru, kadang ke hati, tulang , adrenal dan ginjal kontralateral (De Jong, 2000).
Tumor Wilm’s ini terjadi pada parenchym renal. Tumor tersebut tumbuh dengan cepat di lokasi yang dapat unilateral atau bilateral.Pertumbuhan tumor tersebut akan meluas atau enyimpang ke luar renal. Mempunyai gambaran khas berupa sglomerulus dan tubulus yang primitif atau abortif dengan ruangan bowman yang tidak nyata, dan tubulus abortif di kelilingi stroma sel kumparan. Pertama-tama jaringan ginjal hanya mengalami distorsi, tetapi kemudian di invasi oleh sel tumor. Tumor ini pada nyatanya memperlihatkan warna yang putih atau keabu-abuan homogen, lunak dan encepaloid (menyerupai jaringan ikat ). Tumor tersebut akan menyebar atau meluas hingga ke abdomen dan di katakana sebagai suatu massa abdomen. Akan teraba pada abdominal dengan di lakukan palpasi. Munculnya tumor Wim’s sejak dalam perkembangan embrio dan akan tumbuh dengan cepat setelah lahir. Pertumbuhan tumor akan mengenai ginjal atau pembuluh vena renal dan menyebar ke organ lain. Tumor yang biasanya baik terbatas dan sering terjadi nekrosis, cystic dan perdarahan. Terjadinya hipertensi biasanya terkait iskemik pada renal IV.
Jaringan asal untuk karsinoma sel ginjal adalah epitel tubulus proksimal ginjal. Kanker ginjal bisa terjadi secara herediter atau non herediter. Keduanya memberikan bentuk yang berhubungan dengan perubahan struktural dari kromosom. Studi genetika kanker ginjal menyebabkan kloning gen yang menghasilkan perubahan formasi tumor ( Iliopoulos, 2000 ).
Setidaknya terdapat 4 sindrom genetik yang terkait dengan karsinoma sel ginjal, meliputi : sindrom von Hippel – Lindau (VHL), hereditary papillary renal carcinoma (HPRC), onkosit ginjal familial (FRO) associated with Birt – Hogg – Dube syndrome (BHDS), dan karsinoma ginjal herediter ( Iliopoulos,2000 ).
Penyakit sindrom von Hippel-Lindau adalah sindrom autosomal dominan yang memberikan predisposisi untuk berbagai neoplasma, termasuk kanker ginjal. Renal cell carcinoma berkembang di hampir 40 % dari pasien dengan penyakit Hippel-Lindau von dan merupakan penyebab utama kematian di antara pasien tersebut.
Karsinoma papiler ginjal herediter (HPRC) adalah kelainan bawaan dengan pola dominan warisan autosom; individu yang terkena mengembangkan karsinoma ginjal bilateral ( Radovanovic, 1986 ). Individu dengan onkosit ginjal familial mengembangkan oncocytoma multifokal atau neoplasma oncocytic di ginjal. Sindrom Birt – Hogg – Dube adalah sindrom kulit turun – temurun. Pasien dengan sindrom Birt – Hogg – Dube memiliki kecenderungan dominan diwariskan untuk mengembangkan tumor jinak dari foliker rambut ( yaitu fibrofolliculomas ), terutama di leher, wajah dan batang atas, serta berisiko mengembangkan tumor ginjal, polip kolon atau tumor, dan kista paru ( Iliopoulos, 2000 ). Kanker ginjal memberikan berbagai manifestasi masalah keperawatan.












E.     Pahtway
                                                            merokok
                                                                        Kegemukan
Idiopatik                                             Dialisis
                                                                        Lingkungan
 

                                    CA ginjal
 

Informasi tidak adekuat                                  adrenal

Kurang pengetahuan tentang prognosis          adanya massa

              Ansietas                                            penekanan pada pembuluh darah

            Sel parietas                                          pecahnya pembuluh darah

                 HCL                                               inflamasi
 

   Mual                                  muntah      pengeluaran mediator nyeri
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Nyeri
Devisit volume cairan
 












F.     MANIFESTASI KLINIS

Pada stadium dini, kanker ginjal jarang menimbulkan gejala. Pada stadium lanjut, gejala yang paling banyak ditemukan adalah hematuria ( adanya darah di dalam air kemih). Hematuria bisa diketahui dari air kemih yang tampak kemerahan atau diketahui melalui analisis air kemih.
Nyeri tumpul pada daerah punggung terjadi sebagai akibat dari tekanan balik yang ditimbulkan oleh kompresi ureter, perluasan tumor ke daerah perienal atau perdarahan ke dalam jaringan ginjal.
Nyeri yang bersifat kolik terjadi jika bekuan darah atau massa sel tumor bergerak turun melalui ureter.
Tekanan darah tinggi terjadi akibat tidak kuatnya aliran darah ke beberapa bagian atau seluruh ginjal sehingga memicu dilepaskannya zat kimia pembawa pesan untuk meningkatkan tekanan darah. Polisitemia sekunder terjadi akibat tingginya kadar hormone eritropoietin, yang merangsang sumsum tulang untuk meningkatkan pembentukan sel darah merah.

Tanda-tanda lain dari Carsinoma ginjal adalah;
ü  Warna urin abnormal ( gelap atau coklat ) karena terdapat darah dalam urin.
ü  Kehilangan berat badan lebih dari 5%.
ü  Kelelahan
ü  Anemia
ü  Terdapat massa
ü  Tanda metalase
ü  Demam
ü  Polisitemia, hiperkalsemia
ü  Kebanyakan Carsinoma ginjal teridentifikasi secara kebetulan pada saat pemeriksaan diagnostic abdomen seperti CT-scan.
ü  Gejala yang Nampak mungkin berkaitan dengan metastase tumor seperti fraktur patologi pada paha.

G.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1.      CT – Scan.
2.      Ultrasound. Alat ultrasoud bekerja dengan menggunakan gelombang – gelombang suara yang tidak dapat didengar oleh orang. Gelombang – gelombang suara memantul balik dari ginjal, dan komputer menggunakan gema – gema untuk menciptakan gambar yang disebut sonogram.
3.      Biopsy. Biopsy adalah pengangkatan jaringan untuk mencari sel – sel kanker.
4.      Urografi intravena
5.      USG
6.      MRI bisa memberikan keterangan tambahan mengenai penyebaran tumor
7.      RPG
8.      Arteriografi
9.      Pemeriksaan Fisik
Periksa tanda – tanda kesehatan umum dan mengujinya untuk demam dan tekanan darah tinggi. Raba perut dan pinggang untuk memastikan adanya gejala tumor.
10.  Tes urin.
11.  Tes darah. Laboratorium memeriksa darah untuk melihat seberapa baik ginjal berfungsi. Laboratorium memeriksa tingkat dari beberapa senyawa, seperti creatinine. Tingginya creatinine akan mengakibatkan ginjal tidak bekerja secara normal.
12.  Intravenous Pyelogram ( IVP ). Pemberian zat warna suatu vena di lengan dengan cara disuntikkan. Zat warna berjalan melalui tubuh dan berkumpul di ginjal. Zat warna itu lalu terlihat pada sinar X. Lalu zat warna itu akan bergerak melalui ginjal menuju kantung kemih.




H.    KLASIFIKASI

Ginjal yang semakin lama mengalami kegagalan atau gangguan fungsi ginjal, sehingga tidak mampu lagi bekerja dengan normal, membuat organ ginjal semakin berat dan akhirnya menjadi kanker ginjal. Stadium kanker ginjal didasarkan pada ukuran tumor, penyebaran dan luas penyebaran. Stadium – stadium tersebut adalah :
1.      Stadium I. Stadium ini merupakan awal dari kanker ginjal. Tumornya berukuran 2,75 inci ( 7 cm ) atau tidak lebih besar dari sebuah bola tenis. Sel – sel kanker ditemukan hanya berada di ginjal.
2.      Stadium II. Stadium ini merupakan awal dari kanker ginjal namun tumor sudah berukuran lebih dari 2,75 inci. Sel – sel kanker ditemukan hanya di ginjal.
3.      Stadium III. Pada stadium ini, tumor tidak meluas diluar ginjal, tetapi sel – sel kanker telah menyebar melalui sistem getah bening ke suatu simpul getah bening yang berdekatan. Tumor juga menyerang kelenjar adrenal atau lapisan – lapisan dari lemak dan jaringan yang berserabut yang mengelilingi ginjal. Namun, sel – sel kanker masih belum menyebar diluar jaringan berserabut. Sel – sel kanker ditemukan pada satu simpul getah bening yang berdekatan atau menyebar dari ginjal ke suatu pembuluh darah besar yang berdekatan. Sel – sel kanker juga ditemukan pada simpul getah bening yang berdekatan.
4.      Stadium IV. Pada stadium ini, tumor meluas dari luar jaringan berserabut yang mengelilingi ginjal. Sel – sel kanker ditemukan pada lebih dari satu simpul getah bening yang berdekatan atau kanker yang telah menyebar ke tempat – tempat lain di dalam tubuh, seperti paru – paru.
5.      Kanker yang kambuh. Kondisi ini adalah kanker yang kembali muncul setelah perawatan bisa muncul kembali di ginjal atau bagian tubuh lainnya.
Stadium I
Stadium II

Stadium III


Stadium IV
Tumor terbatas pada parenkim ginjal
Tumor menjalar kejaringan perinefrik tetapi tidak menembus fasia Gerota
III A Tumor menembus fasia gerota dan masuk ke V renalis
III B Kelenjar limfe regional
III C Pembuluh darah local
IV A Dalam organ, selain adrenal
IV B Metatase jauh


Gambar.1.3 stadium kanker ginjal







I.       PENATALAKSANAAN

1.      Operasi
Operasi adalah perawatan yang paling umum untuk kanker ginjal. Perawatan jenis ini merupakan suatu tipe dari terapi lokal yang dilakukan dengan merawat kanker ginjal dan area yang dekat pada tumor. Operasi untuk mengangkat ginjal disebut nephrectomy. Adapun tipe operasi pengangkatan ginjal ini tergantung pada stadium dari tumor yaitu :
-          Radical nephrectomy. Ahli bedah mengangkat seluruh ginjal bersama kelenjar adrenal dan beberapa jaringan disekitar ginjal. Beberapa simpul getah bening di area itu juga diangkat.
-          Simple nephrectomy. Ahli bedah hanya mengangkat ginjal. Biasanya tindakan ini dilakukan pada penderita kanker ginjal stadium I.
-          Partial nephrectomy. Ahli bedah hanya mengangkat bagian dari ginjal yang mengandung tumor. Operasi ini dilakukan ketika seseorang itu hanya mempunyai satu ginjal, ketika kanker sudah memengaruhi kedua ginjal, maupun penderita yang ukuran tumor ginjalnya kurang dari 4 cm atau ¾ inci.
Efek samping dari operasi adalah lamanya waktu untuk sembuh. Lama waktu yang diperlukan untuk kesembuhan pun berbeda untuk setiap orang. Pasien sering tidak nyaman selama beberapa hari pertama meskipun telah menggunakan obat penghilang nyeri.
2.      Arterial embolization
Arterial embolization adalah tipe terapi lokal yang menyusutkan tumor dan dilakukan sebelum tindakan operasi. Tujuannya adalah agar operasi dapat berjalan lebih mudah. Ketika operasi tidak mungkin dilakukan, maka embolization digunakan untuk membantu menghilangkan gejala – gejala kanker ginjal.
Cara ini dilakukan dengan memasukkan tabung yang sempit ke dalam suatu pembuluh darah di kaki. Tabung dialirkan keatas hingga ke pembuluh darah besar utama atau arteri ginjal yang menyediakan darah pada ginjal. Lalu disuntikkan suatu senyawa ke pembuluh darah untuk menghalangi aliran darah ke dalam ginjal.
Setelah arterial embolization penderita biasanya merasakan nyeri punggung atau mengalami demam. Efek – efek lainnya mual dan muntah. Namun masalah – masalah ini bisa segera menghilang.

3.      Terapi radiasi
Terapi radiasi ( radioterapi ) adalah tipe lain dari tipe lokal yang yang menggunakan sinar bertenaga tinggi untuk membunuh sel – sel kanker, serta memengaruhi sel – sel kanker di area yang dirawat. Pasien mendapatkan perawatan di rumah sakit atau klinik dalam lima hari setiap minggu selama beberapa minggu.
Efek samping dari terapi radiasi tergantung pada jumlah radiasi yang diberikan dan bagian tubuh yang dirawat. Pasien bisa menjadi sangat lelah selama terapi radiasi, terutama pada minggu – minggu pertama perawatan.
Terapi radiasi pada ginjal dan area – area yang berdekatan memungkinkan terjadinya mual, muntah, diare atau tidak nyaman ketika BAK. Selain itu juga menyebabkan kekurangan jumlah sel darah putih sehat yang sebenarnya membantu melindungi tubuh terhadap infeksi. Efek lainnya kulit diarea yang dirawat akan memerah, kering dan peka.

4.      Terapi biologis
Terapi biologis adalah suatu tipe dari terapi sistematis atau terapi yang menggunakan senyawa – senyawa yang berjalan melalui aliran darah, mencapai dan memengaruhi sel – sel di seluruh tubuh. Terapi biologis menggunakan kemampuan alamiah tubuh atau sistem imun untuk melawan kanker.
Terapi biologis mungkin menyebabkan gejala – gejala seperti flu, kedinginan, demam, nyeri – nyeri otot, kelemahan, kehilangan nafsu makan, mual, muntah dan diare. Pasien – pasien juga mungkin memperoleh suatu ruam kulit atau skin rash. Persoalan – persoalan ini dapat menjadi parah, namun mereka menghilang setelah perawatan dihentikan.
5.      Kemoterapi
Kemoterapi adalah tipe dari terapi sistemis dengan menggunakan obat – obatan. Obat – obatan anti kanker memasuki aliran darah dan mengalir ke seluruh tubuh. Meskipun berguna untuk kanker – kanker yang lain, obat – obatan tersebut telah menunjukkan penggunaan yang teratas terhadap kanker.
Efek samping dari kemoterapi tergantung pada obat – obatan spesifik dan jumlah yang diterima. Pada umumnya, obat – obatan anti kanker memengaruhi sel – sel yang membelah secara cepat, terutama sel – sel darah. Sel – sel ini melawan infeksi, membantu darah untuk menggumpal atau membantu, dan membawa oksigen ke seluruh tubuh. Ketika obat – obat memengaruhi sel – sel darah, pasien lebih mudah mendapat infeksi, memar berdarah, juga merasa sangat lemah dan lelah.
Kemoterapi dapat menyebabkan kerontokan rambut. Rambut tumbuh kembali, namun adakalanya rambut yang baru memiliki warna dan tekstur yang agak berbeda.
Kemoterapi dapat menyebabkan nafsu makan yang buruk, mual, muntah, diare, atau luka – luka mulut dan bibir. Namun, efek – efek samping ini dapat dikontrol dengan menggunakan obat – obatan.

6.      Nutrisi
Pasien perlu makan dengan baik selama terapi kanker. kecukupan kalori dibutuhkan untuk menjaga berat badan dan protein untuk mempertahankan kekuatan. Nutrisi bisa membuat penderita kanker merasa lebih baik dan mempunyai lebih banyak energi. Masalahnya pasien kanker sering kali sulit untuk makan karena tidak merasa nyaman atau lelah.






BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

A.    PENGKAJIAN

1.      Identitas Klien
2.      Riwayat penyakit sekarang
Klien mengeluh kencing berwarna seperti cucian daging, bengkak sekitar mata dan seluruh tubuh. Tidak nafsu makan, mual ,muntah dan diare. Badan panas hanya satu hari pertama sakit.
3.      Pengkajian fisik
a.        Keadaan umum
b.       Berat badan
c.        Pengkajian Head To Toe
d.       TTV
e.        Kaji pola nutrisi
f.        Adanya nyeri tekan pada bagian abdomen
g.       Periksa adanya benjolan pada perut.
h.       Adanya perdarahan per uretra

4.      Pengkajian Perpolaa.
a.       Pola nutrisi dan metabolic :
Suhu badan normal hanya panas hari pertama sakit. Dapat terjadi kelebihan beban sirkulasi karena adanya retensi natrium dan air, edema pada sekitar mata dan seluruh tubuh. Klien mudah mengalami infeksi karena adanya depresi sistem imun. Adanya mual , muntah dan anoreksia menyebabkan intake nutrisi yang tidak adekuat. BB meningkat karena adanya edema. Perlukaan pada kulit dapat terjadi karena uremia.

b.      Pola eliminasi :
Eliminasi alvi tidak ada gangguan, eliminasi uri : gangguan pada glumerulus menyebakan sisa-sisa metabolisme tidak dapat diekskresi dan terjadi penyerapan kembali air dan natrium pada tubulus yang tidak mengalami gangguan yang menyebabkan oliguria sampaianuria ,proteinuri, hematuria.
c.       Pola Aktifitas dan latihan :
Pada Klien dengan kelemahan malaise, kelemahan otot dan kehilangan tonus karena adanya hiperkalemia. Dalam perawatan klien perlu istirahat karena adanya kelainan jantung dan tekanan darah mutlak selama 2 minggu dan mobilisasi duduk dimulai bila tekanan darah sudah normal selama 1 minggu. Adanya edema paru maka pada inspeksi terlihat retraksi dada, pengggunaan otot bantu napas, teraba ,auskultasi terdengar rales dan krekels , pasien mengeluh sesak, frekuensi napas. Kelebihan beban sirkulasi dapat menyebabkan pembesaran jantung (Dispnea, ortopnea dan pasien terlihat lemah) anemia dan hipertensi yang juga disebabkan oleh spasme pembuluh darah. Hipertensi yang menetap dapat menyebabkan gagal jantung. Hipertensi ensefalopati merupakan gejala serebrum karena hipertensi dengan gejala penglihatan kabur, pusing, muntah, dan kejang-kejang. GNA munculnya tiba-tiba orang tua tidak mengetahui penyebab dan penanganan penyakit ini.
d.      Pola tidur dan istirahat :
Klien tidak dapat tidur terlentang karena sesak dan gatal karena adanya uremia. keletihan, kelemahan malaise, kelemahan otot dan kehilangan tonus Kognitif & perseptual : Peningkatan ureum darah menyebabkan kulit bersisik kasar dan rasa gatal. Gangguan penglihatan dapat terjadi apabila terjadi ensefalopatihi pertensi. Hipertemi terjadi pada hari pertama sakit dan ditemukan bila ada infeksi karena inumnitas yang menurun.


e.       Persepsi diri :
Klien cemas dan takut karena urinenya berwarna merah dan edema dan perawatan yang lama. Anak berharap dapat sembuh kembali seperti semulaf.
f.       Hubungan peran :
Anak tidak dibesuk oleh teman– temannya karena jauh dan lingkungan perawatann yang baru serta kondisi kritis menyebabkan anak banyak diam.
g.      Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan labolatorium tidak banyak membantu, hanya dapat ditemukan laju endap darah yang meninggi dan kadang kadang ditemukan hematuria. Bila kedua kelainan labolatorium ini ditemukan, maka prognosis diagnosa buruk Pada foto polos abdomen akan tampak masa jaringan lunak dan jarang ditemukan klsifikasi didalamnya. Pemeriksaan pielografi intravena dapat memperlihatkan gambaran distori, penekanan dan pemanjangan susunan pelvis dan kalises. Dari pemeriksaan renoarteriogram didapatkan gambaran arteri yang memasuki masa tumor. Foto thoraks dibuat untuk mencari metastasi kedalam paru-paru.

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
Masalah Keperawatan
1.      Devisit volume cairan
2.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
3.      Nyeri
Pioritas Masalah Keperawatan
1.      Nyeri
2.      Devisit volume cairan
3.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Diagnosa keperawatan
1.      Nyeri b/d agen cidera biologis.
2.      Devisit volume cairan b/d kehilangan cairan aktif.
3.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien

C.    NERSING CARE PLANNING
No.
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil
intervensi
1.
Nyeri b/d agen cidera biologis (kerusakan ginjal)
DS:
-       Klien mengeluh nyeri dibagian piggang

DO:
-. TD:140/100
- RR: 30/mnt
- T: 38 C

NOC :
v  Pain Level

setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam nyeri klien menghilang dengan indicator :

v  Mampu mengontrol nyeri ( tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) (1-4 )
v  Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri ( 1-4)
v  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)      ( 1-4 )
v  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang       ( 1-4 )
v  Tanda vital dalam rentang normal   ( 1-4 )

Indicator :

1.      Tidak menujukan kriteria hasil
2.      Jarang menujukan kriteria hasil
3.      Kadang menujukan kriteria hasil
4.      Sering menujukan kriteria hasil
5.      Selalu menujukan kriteria hasil

NIC :

Pain Management

§  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi
§  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
§  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
§  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidak efektifan control nyeri masa lampau
§  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
§  Kurangi factor presipitasi nyeri
§  Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
§  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
§  Ajarkan tentang teknik non farmakologi
§  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
§  Evaluasi keefektifan control nyeri
§  Tingkatkan istirahat
§  Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
2.
Devisit volume cairan b/d kehilangan cairan aktif.
DS:

DO :
-          Kelemahan otot
-          Kulit kering dan bersisik
-          T : 38 C
-          BB : 45 Kg
-          N : 120 x/mnt
NOC:
v  Fluid balance

setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam volume cairan dalam batas normal dengan indicator :

Kriteria Hasil :
v  Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal (1-4)
v  Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal(1-4)
v  Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan(1-4)

Indicator :

1.      Tidak menujukan kriteria hasil
2.      Jarang menujukan kriteria hasil
3.      Kadang menujukan kriteria hasil
4.      Sering menujukan kriteria hasil
5.      Selalu menujukan kriteria hasil


NIC :
Fluid management
·         Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
·         Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
·         Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan (osmolalitas urin  )
·         Monitor vital sign
·         Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
·         Kolaborasi pemberian cairan IV
·         Monitor status nutrisi
·         Berikan cairan
·         Berikan diuretik sesuai interuksi
·         Dorong masukan oral
·         Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
·         Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
·         Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
3.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien
DS:
- Klien mengatakan tidak nafsu makan

DO:
-          intake nutrisi yang tidak adekuat
-          mual, muntah
-          BB : 45 Kg
-           
NOC :
v  Nutritional Status : nutrient Intake

setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam nutrisi pasien tercukupi dengan indicator :
Kriteria Hasil :
v  Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan   (1-4)
v  Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan(1-5)
v  Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi(1-4)
v  Tidk ada tanda tanda malnutrisi(1-5)
v  Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan(1-4)
v  Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti(1-4)

Indicator :

1.      Tidak menujukan kriteria hasil
2.      Jarang menujukan kriteria hasil
3.      Kadang menujukan kriteria hasil
4.      Sering menujukan kriteria hasil
5.      Selalu menujukan kriteria hasil


NIC :
Nutrition Management
§  Kaji adanya alergi makanan
§  Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
§  Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
§  Berikan substansi gula
§  Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
§  Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
§  Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
§  Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
§  mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
§  BB pasien dalam batas normal
§  Monitor adanya penurunan berat badan
§  Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
§  Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
§  Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
§  Monitor mual dan muntah
§  Monitor makanan kesukaan
§  Monitor pertumbuhan dan perkembangan
§  Monitor kalori dan intake nuntrisi
§  Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.
§  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.










BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Kanker Ginjal adalah kondisi medis yang ditandai dengan kelainan pertumbuhan dari sel-sel kanker pada ginjal. Biasanya, hanya satu ginjal yang terkena kanker.
Kanker ginjal merupakan sebagian besar tumor ginjal yang solid (padat) dan jenis kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel ginjal (adeno karsinoma renalis / hipernefroma).
factor-faktor tertentu yang tampaknya meningkatkan risiko terjadinya kanker ginjal diantaranya :
1.      Merokok
2.      Kegemukan / obesitas.
3.      Dialysis jangka panjang. Dialysis adalah perawatan untuk orang – orang yang ginjalnya tidak bekerja dengan baik.
4.      Hipertensi.
5.      Jenis kelamin. Laki – laki dimungkinkan lebih banyak menderita kanker ginjal daripada perempuan.
6.      Makanan tinggi lemak.
7.      Faktor lingkungan seperti terpapar cadmium, pelarut klorin, asbestos.

B.     SARAN
Asuhan Keperawatan kami masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kami. Besar harapan kami agar pembaca memberikan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca agar Asuhan Keperawatan ini menjadi sempurna.
DAFTAR PUSTAKA

1 komentar: