BAB I
PENDAHULUAN
I.I. LATAR BELAKANG
Mycobacterium
tuberculosis merupakan organism penyebab tuberculosis ginja. Tuberculosis
ginjal adalah infeksi sekunder yang diakibatkan oleh tuberculosis paru. Sekitar
15% dari individu dengan tuberculosis paru aktif akan mengalami tuberculosis
ginjar.
Pada
awalnya, bagian ginjal yang terinfeksi adalah korteks dan medula renalis.
Kerusakan jaringannya bersifat progresif. Infeksi dapat menyebar melalui mukosa
kesaluran kemih. Infeksi pada ureterdapat menyebabkan striktur. Striktur akan
menyebabkan obstruksi. Suplai darah pada jaringan ginjal dapat terganggu karena
kerusakan jaringan oleh gumpalan tuberkel. Terganggu suplai darah akan
menimbulkan iskemia.
Yang
termasuk tanda dan gejala tuberculosis ginjal adalah anoreksia, berat badan
menurun, demam yang bersifat intermiten. Pasien juga dapat mengalami hematuria.
yang termasuk dalam uji diagnostic adalah skrining untuk tuberculosis paru.
Hasil uji kulit mantoux adalah positif. Adanya m. tuberculosis dalam urin dapat
juga membantu diagnosis
I.III. TUJUAN
Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini yaitu sebagai proses pembelajaran mahasiswa dalam
memahami penyakit pada sistem perkemihan khususnya tuberkulosis ginjal serta
penatalaksanaannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.I. DEFINISI TUBERCULOSIS
GINJAL
-
Tuberkulosis adalah suatu infeksi menular dan bisa berakibat fatal, yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium bovis
atau Mycobacterium africanum.
-
Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang
parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya,
terutama meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Brunes & Suddat, 2003 :
hal 584).
-
Tuberkulosis adalah penyakit
infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang
biasa menyerang paru tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lain seperti pada
kelenjar getah bening, ginjal, jantung, dan lain sebagainya (Danusantoso,
2000).
-
Tuberkulosis adalah penyakit
menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis).
Sebagian besar kuman tuberkulosis menyerang paru, tetapi dapat juga
menyerang organ tubuh lainnya seprti ginjal, tulang dan usus.
-
Setelah tuberkulosis paru, saluran ginjal merupakan lokal infeksi
yang paling sering, biasanya disebabkan penyebaran hematogen baik dari
tuberkulosis paru maupun tulang. Setiap bagian dari saluran ginjal dapat
terkena. Sekitar 15% dari individu dengan tuberkulosis paru aktif akan
mengalami tuberkulosis ginjal.
-
Tuberculosis ginjal dan saluran kemih adalah penyakit
tuberculosis disebabkan oleh organisme mikrobakterium tuberkulosa. Organisme ini biasanya berjalan dari
paru-paru melalui aliran darah ke ginjal. Lalu
Mikroorganisme kemudian menjadi dorman di ginjal selama bertahun-tahun.
II.II ETIOLOGI TUBERCULOSIS GINJAL
Penyebab
dari tuberculosis ginjal adalah:
1.
Mycobacterium tuberculosis
2.
Mycobacterium bovis
3.
Mycobacterium africanum
II.III ANATOMI TUBERCULOSIS
GINJAL

II.IV PATOFISIOLOGI TUBERCULOSIS
GINJAL
Basil tuberkulosis mencapa ginjal atau epididimis secara hematogen dan menyebabkan gambaran patologik yang khas berupa kelainan granulomatosa dengan pengkijauan sentral yang akhirnya cenderung mengalami kalsifikasi atau membentuk kaverne. Dari ginjal terjadi penyebaran infeksi secara desendens melalui ureter yang dapat mengalamistriktur fibrosa. Di kandung kemih, tuberkulosis mulai tampak sebagai bengkak dankemerahan sekitar muara ureter di trigonum. Tuberkulosis menyebar di kandung kemih dengan tukak kecil di mukosa yang menjadi fibrotik dan mengakibatkan pengerutan.Penyebaran tuberkulosis ke saluran kemih dapat terjadi puluhan tahun setelah kompleks primer.
Tuberkulosis
saluran kemih tidak jarang ditemukan bersamaan dengan tuberkulosis sekunder
tulang belakang. Penyebaran hematogen ke prostat atauepididimis tidak berkaitan
dengan tuberkulosis ginjal. Tuberkulosis ginjal pada awalnya merupakan
penyebaran milier kiri dan kanan dikorteks.
Sarang
milier ini berkembang
menjadi rahang granulasi yang mengalaminekrosis secara perkijauan yang mungkin
membentuk kaverne atau sembuh lokaldengan fibrosis, pengerutan, retraksi dan
kalsifikasi. Perforasi nekrosis kaliks di pielummenyebabkan penyebaran secara
desendens. Tuberkulosis di pielum, ureter, kandungkemih dan prostat pada
prinsipnya menunjukkan gambaran yang sama, kecualipengkijauan tidak menyebabkan
kaverne melainkan ulkus.
Fibrosis
menyebabkanretraksi dan penyempitan sehingga terjadi obstruksi
dengan segala konsekuensinya.
II.V. MANIFESTASI KLINIS TUBERCULOSIS GINJAL
Gejala tuberkulosis ginjal antara lain :
Ø Anorexia
Ø berat badan menurun
Ø demam yang bersifat intermintent
Ø Pasien juga dapat mengalami hematuria.
II.VIII.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK TUBERCULOSIS GINJAL
Pemeriksaan film dada harus
dilakukan untuk menyingkirkan tuberkulosis paru. Film polos abdomen dapat
memperlihatkan kalsifikasi ginjal, vesika seminalis, atau vas deferens.
Kalsifikasi terlihat sebagai intensitas yang bervariasi dengan kisaran dari
beberapa bintik-bintik kecil hingga daerah-daerah yang sangat padat pada
kasus-kasus lanjut.Disorganisasi
ginjal yang besar dapat menyebabkan ginjal tidak berfungsi.
Pada PVI, pada Ginjal dapat ditemukan deformitas pada
calyces, striktur, pembentukan kavitas yang
ireguler, dan jaringan parut pada parenkim ginjal.
Gb.
Lobar calcification Pada kerusakan
yang luas pada ginjal kanan akibat tuberkulosis ginjal
Gb.
Kiri : Tuberkulosis ginjal yang menunjukkan kalsifikasi yang kasar Kanan: menunjukkan
dilatasi calyces dan ureter akibat striktur ureter.
II.IX. PENATALAKSANAAN
TUBERCULOSIS GINJAL
Tuberkulosis ginjal
merupakan tuberkulosis ekstra paru kategori berat, maka penatalaksanaan
OAT termasuk dalam kategori I yaitu minimal 4 macam obat pada 2 bulan
pertama(2HRZE), dilanjutkan dengan 2 macam obat sampai 12 bulan (4H3R3).
Jenis dan dosis OAT Kategori I
|
Jenis obat
|
Dosis yang direkomendasikan (mg/kg)
|
|
|
Harian
|
3xseminggu
|
|
|
Isoniazid (H)
|
5
(4-6)
|
10
(8-12)
|
|
Rifampicin (R)
|
10
(8-12)
|
10
(8-12)
|
|
Pyrazinamide (Z)
|
25
(20-30)
|
35
(30-40)
|
|
Ethambutol
|
15
(15-20)
|
30
(20-35)
|
Pengobatan TB ginjal bersifat holistik yaitu selain pemberian obat anti tuberkulosis juga penanganan terhadap kelainan ginjal . Apabila diperlukan tindakan bedah, dapat dilakukan setelah pemberian OAT 4 ± 6 minggu
II.X KOMPLIKASI TUBERCULOSIS GINJAL
- Gagal ginjal akut
- Tuberculosis reproduksi
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
KONSEP KEPERAWATAN
III.I PENGKAJIAN
v
Biodata
Merupakan informasi umum tentang siapa klien dan latar
belakangnya. Biodata mencakup:
-
nama lengkap
-
alamat
-
umur
-
tanggal dan tempat lahir
-
jenis kelamin
-
suku bangsa
-
Agama
-
Bahasa
-
status perkawinan
-
pendidikan
-
pekerjaan
-
usia
-
suku bangsa
v
Riwayat kesehatan sekarang
Untuk
membantu menegakkan diagnosa. apakah penyakit yang dirasakan datang secara tiba
tiba atau perlahan.
v
Riwayat kesehatan dahulu
Klien biasanya
mengalami menstruasi diusia muda (< 12 tahun), menopause pada usia lanjut
(> 55 tahun), tidam mempunyai anak, pernah mengalami radiasi didada.
v
Riwayat Keluarga
Ada atau tidak keluarga yang
mengidap penyakit yang sama dan kemungkinan pembedahan sebelumnya.
(Ignatvicius, 1995).
v Riwayat psikologis
Adalah suatu
riwayat yang merujuk kepada kesan seseorang terhadap dirinya sendiri (Brunner & Suddarth, 2002).
Biasanya pasien
dengan tuberculosis ginjal terjadi penurunan
psikologis dan steres yang tinggi karena penyakitnya, maka perlu perhatian yang
lebih dari keluarga dan perawat (R.P. Sidabutar, 1992).
v Riwayat Spritual
Adalah riwayat yang
biasanya diekspresikan melalui agama tertentu yang dianutnya (Brunner & Suddarth, 2002).
Pasien dengan tuberculosis ginjal dalam
beribadahnya tidak dapat melakukan seperti biasa dikarenakan keadaan fisik yang
lemah (R.P. Sidabutar, 1992).
v Pola kebiasaan
Pola nutrisi
Pasien dengan tuberculosis
ginjal mengalami penurunan nafsu makan karena adanya anorexia, nousea, vomitus
yang diakibatkan oleh gangguan metabolisme protein di dalam usus, BB menurun.
(Soeparman, 1996).
Pola eliminasi
Pasien dengan tuberculosis
ginjal mengalami gangguan pola eliminasi dimana terjadinya nyeri selama atau
sesudah buang air kecil yang disebabkan oleh infeksi saluran kemih, adanya
hematuria. (T.J. Bailey, 1995)
Pola aktifitas
Pasien dengan tuberculosis ginjal pola
aktifitasnya terganggu dikarenakan pasien cepat lelah dan lemah,dispneu setelah beraktifitas. (Soeparman,
1996).
Pola istirahat
Pasien dengan tuberculosis ginjal mengalami
kesulitan dalam beristirahat, dikarenakan karena adanya nyeri (Soeparman,
1996).
v Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Pemeriksaan yang dilakukan
dengan cara melihat keadaan umum dan kelainan yang terdapat di seluruh tubuh
sehubungan dengan perjalanan penyakitnya, biasanya mata pasien kurang
bercahaya, gelisah, membran mukosa pucat dan tampak lelah. (R.P. Sidabutar,
1992).
Palpasi
Pemeriksaan dengan
perabaan pada ginjal yang menimbulkan rasa
tidak enak diperut , nyeri. (Soeparman, 1996).
Perkusi
Pemeriksaan dengan
cara mengetuk untuk mengetahui kelainan organ melalui suara yang
terdengar.(Soeparman, 1996)
Auskultasi
Pemeriksaan dengan
cara mendengar bunyi atau irama jantung sehingga diketahui ada tidaknya hipertensi dan
juga terdengar bunyi ( bising )
peristaltik usus meningkat (Soeparman, 1996).
III.II DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Nyeri akut b/d agens cedera biologis
2.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b/d faktor biologis
3.
Intoleransi aktifitas b/d kelemahan umum
III.III NURSING CARE PLAN (NCP)
|
No
|
Diagnosa Kep
|
Rencana
Keperawatan
|
|
|
Tujuan dan Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
||
|
1
|
Nyeri Akut b/d
agen Cedera biologis di tandai dengan:
Ds :
-
klien
mengatakan merasa nyeri selama buang air kencing
-
klien
mengatakan sulit beristirahat karena adanya nyeri
Do :
-
mata
pasien kurang bercahaya
-
Pasien
tampak gelisa
-
saat
dilakukan pemeriksaan palpasi terasa nyeri
|
NOC:
v Pain control
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam nyeri klien dapat teratasi dengan kriteria
hasil:
v Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
v
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri
v
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan
tanda nyeri)
v
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
v Tanda vital dalam rentang normal
|
NIC
:
§ Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi
§ Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
§
Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
§
Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak berhasil.
§ Ajarkan tentang teknik non farmakologi
|
|
2
|
Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b/d faktor biologis di tandai dengan:
Ds :
-
klien
mengatakan mengalami penurunan nafsu makan
Do :
-
anoreksia
-
nousea
-
vomitus
-
bb menurun dari 60 kg menjadi 49
-
pada
pemeriksaan inspeksi membran mukosa terlihat pucat
-
pada
pemeriksaan auskultasi terdengar bunyi peristaltik usus meningkat
|
NOC :
v
Nutritional Status :
v
Weight control
KriteriaHasil :
v
Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
v
Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
v
Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
v
Tidak ada tanda tanda malnutrisi
v
Tidak terjadi penurunan berat badan yang
berarti
|
Nutrition Management
v
Kaji adanya alergi makanan
v
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
v
Berikan makanan yang terpilih ( sudah
dikonsultasikan dengan ahli gizi)
v
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
v
Ajarkan
pada pasien untuk penurunan berat badan
§
|
|
3
|
Intoleransi Aktifitas
b/d Kelemahan
Umum di tandai dengan:
Ds :
-
klien
mengatakan cepat merasa lelah dan lemah
Do :
-
Dispneu
|
NOC :
v Energy conservation
v Self Care : ADLs
Setelah dilakukan perawatan 3x 24 jam diharapkan tidak ada
lagi Intoleransi Aktifitas klien.Dengan Kriteria Hasil:
v Berpartisipasi dalam
aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
v
Mampu melakukan aktivitas sehari
hari (ADLs) secara mandiri
|
NIC
:
Energy Management
v
Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
v
Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat
v
Monitor pasien akan adanya
kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
v
Kolaborasikan
dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan progran terapi yang tepat.
v
Bantu
klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
v Ajarkan pada pasien
untuk mengidentifikasi pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
|
DAFTAR PUSTAKA
http://imoetimha.blogspot.com/2013/01/askep-tuberculosis.html
http://syuhadapoenya.blogspot.com/2012/11/pengertian-tb.html
http://www.scribd.com/doc/116016456/Tuberculosis-Extra-Pulmonal
http://coass-kita.blogspot.com/2012/06/tuberkulosis-ginjal.html
http://yvdhafkm09ump.blogspot.com/2012/05/tuberkulosis-adalah.html


terimakasih banyak infonya, sangat menarik sekali dan bermanfaat
BalasHapushttp://landongobatherbal.com/obat-herbal-infeksi-ginjal/
thank's infonya gan
BalasHapus